Sunday, April 2, 2017

Di Mana Kamu Merasa Nyaman?


Ahahahahahaha! Setelah sekian lama vakum, Penulis balik lagi. Kali ini Penulis mau ngomongin tentang zona nyaman alias comfort zone. Topik ini dari Nadya. Entahlah, Penulis juga ga ngerti sama di Nadya ini. Suka banget kasih topik yang berhubungan dengan kepribadian. Mesti mikir berkali-kali, bolak balik tanya diri sendiri, repot deh. Tapi tenang, yang begini ini ada manfaatnya kok. Dengan mikir dan bertanya ke diri sendiri, kita bisa jadi lebih mengenal siapa kita. Makin kenal dengan diri kita, makin bagus juga kualitas hidup kita.

Kok nyambung ke kualitas hidup? Emang apa hubungannya?

Begini, lho hubungannya. Dengan kita mengenal diri kita sendiri, kita akan mudah untuk mengenal Tuhan. Kalau Tuhan aja udah dikenal, apalagi orang-orang di sekitar kita. Kalau semua udah 'kenal', berarti hakikat hidup manusia udah terpenuhi.

Hakikat hidup yang mana?

Itu, lho, yang hablumminallah wa hablumminannas, alias 'hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia'. Jadi hubungan dengan Allah berjalan dengan baik, hubungan dengan sesama manusia juga terjalin apik. Nah, kalau semua hubungan terbina dengan baik, bukankah kualitas hidup juga jadi baik? Iya, engga?

Duh! Kok jadi nyasar ke situ, ya?! Kebiasaan! Ahahahaha! Oke, oke, kita balik ke topik. Yok, lah cerita!

Comfort Zone Punya Gueh!


Dalam menafsirkan makna zona nyaman dari dua sisi, makna harfiah dan makna istilah. Pertama, kita bahas dari makna harfiahnya dulu, ya.

zona : /zo·na/ n 1 salah satu dari lima bagian besar permukaan bumi yang dibatasi oleh garis khayal di sekeliling bumi, sejajar dengan khatulistiwa (satu zona tropik, dua zona sedang, dan dua zona kutub); jalur iklim; 2 daerah yang ditandai dengan kehidupan jenis binatang atau tumbuhan tertentu yang juga ditentukan oleh kondisi tertentu di sekitarnya; 3 daerah (dalam kota) dengan pembatasan khusus; kawasan: -- industri;
nyaman/nya·man/ a 1 segar; sehat: badannya berasa -- disinari matahari pagi; 2 sedap; sejuk; enak: suaranya merdu, -- didengar;
kenyamanan/ke·nya·man·an/ n keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan 

Nah, Penulis ambil secara garis besar aja, deh, ya? Jadi intinya zona nyaman itu lokasi, tempat atau wilayah di mana kita bisa merasa enak, nyaman. Bicara tentang lokasi, berarti ada titik-titik nyata tertentu yang menjadi tempat di mana kita merasa nyaman.

Banyak cakap! Tinggal bilang aja pun ribet bener!

http://psychologia.co/wp-content/uploads/2015/03/comfort-zone-test.pngOke, oke, ga usah marah cin. Sampai saat ini, ada dua tempat yang membuat Penulis merasa nyaman. Yang pertama, tentu aja di rumah orangtua di kampung sana, terutama di kamar pribadi milik Penulis. Yang kedua, kamar kost! Iya, di dua tempat inilah Penulis bisa merasa bener-bener nyaman. Penulis merasa jadi raja di kerajaan Penulis sendiri. Ga peduli walaupun ukuran kamar cuma 3x4 meter, pokoknya Penulis nyaman. Sebenarnya dua tempat ini ga langsung jadi zona nyaman-nya Penulis. Butuh usaha dan waktu dalam proses menjadikan tempat ini zona nyaman Penulis.

Emang gimana caranya?

http://www.mofucasual.com/wp-content/uploads/2016/03/Tidur-Siang.jpg
Balik ke pernyataan Penulis tentang raja di kerajaan sendiri, seperti itulah Penulis memperlakukan dua tempat ini. Penulis akan mengatur tata letak setiap barang dengan penuh pemikiran supaya ga ada yang membuat Penulis ga nyaman. Gimana letak tempat tidur, di mana letak kepalanya, atau letak lemari, kenapa mesti begitu, dan sebagainya. Mungkin kalau kalian liat kamar Penulis, kalian bakalan mikir kamar Penulis berantakan. Tapi kamar yang berantakan itu udah pas penempatannya menurut Penulis. Jadi kalau ga suka, pergi, shoo shoo shoo!

Yang kedua, makna secara istilah. Jadi begini, walaupun zona berarti wilayah, ga melulu kita bicara tentang tempat. Bisa aja kita cerita tentang situasi atau kondisi. Bisa juga cuaca. Lebih bebas deh pokoknya.

Jawab aja, deh! Jangan muter-muter, bikin bingung tau engga?!

Hmm. nah, kalau diambil dari makna istilah, Penulis punya beberapa zona nyaman. Pertama, adalah saat Penulis lagi sendirian di kamar, cuma berkawan dengan musik, film, dan atau cemilan. Atau tanpa mereka bertiga, cukup Penulis sendiri, berbaring di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar, memikirkan tentang ini dan itu. Beruntung langit-langit di kamar Penulis ga ada yang ganjen, lho. Coba kalau ada, pasti heboh. Ya iya lah, siapa yang ga heboh ditatap sama cowok ganteng? (Mati aja lu sono, kambing gilak!)

https://dulsantri.files.wordpress.com/2012/09/keluarga.jpgKedua, adalah saat Penulis berdua dengan dia yang Penulis sayang. Ga spesifik merujuk ke jenis kelamin atau ras, ya. Ini bisa aja cowok, bisa juga kucing, atau hantu juga kalau Penulis sayang sama dia, boleh jadi.

Kalian ngapain?

Ga ngapa-ngapain. Cukup berbaring, peluk-peluk, elus-elus. Gitu doang. Tapi dengan hal sederhana itu, Penulis bisa merasa nyaman.

Terakhir, adalah saat Penulis dikelilingi orang-orang yang sayang dengan Penulis, di mana Penulis bisa bebas berekspresi, bisa bebas berargumen, misalnya keluarga di kampung. Well, manusia itu bukan burung atau penyu yang bakalan dilepas sama orangtuanya, terus ga balik lagi. Mau sejauh apapun kamu pergi, ada saatnya kamu bakalan kembali. Kalau masih punya orangtua, mereka lah rumah kembalimu. Kalau udah ga punya orangtua, masih ada saudara, kakak-adik. Nah, berada di sekitar mereka lah salah satu zona nyaman Penulis.

Nah, jadi itu dia zona nyaman Penulis. Udah ga penasaran lagi, kan? Atau kamu ngerasa masih kurang? Kamu ga setuju sama Penulis? Jangan cuma baca, komentar, speak your mind! Okay!

Saturday, March 18, 2017

Mau ke Negara Mana Kita Jalan-jalan?


Haloooooow!

Selamat malam minggu! Penulis lagi mau nyicil hutang, nih. Udah tiga biji! Besok jadi empat. Penulis harus memaksakan diri supaya hutang-hutang ini lunas!

Nah, sekarang Penulis mau cerita-cerita tentang mengunjungi negara lain. Topik ini diajukan oleh Bang Boy. Dia pengen kami para ABC cerita tentang negara mana yang pengen dikunjungi dan kenapa. Dia mau kami cuma memilih satu negara aja. Well, challenge's accepted. Ayok kita cerita!

Negara yang Ingin Penulis Kunjungi

Ngomongin tentang berkunjung ke luar negeri, erat kaitannya dengan traveling, plesiran, foto-foto di landmark wilayah tersebut, dan sebagainya. Tapi sayangnya Penulis bukan tipe orang yang gitu pulak, lah.

Sok! Emang udah pernah ke luar negeri?

Alhamdulillah, tahun 2013 lalu dikasih rejeki sama Allah untuk mengunjungi semenanjung Malaka alias Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ga lama, kok. Cuma satu minggu. Tapi alhamdulillah ada yang didapat dari sana selain cap stempel imigrasi di paspor.

Terus, Penulis itu tipe orang yang gimana?

Nah, balik ke paragraf sebelumnya. Penulis itu beda. Jadi, kalau Penulis mengunjungi satu tempat, Penulis akan menjadi pengamat abal-abal. Toleh kanan-kiri kaya mau nyeberang jalan, colek sana-sini, pokoknya kaya lagi observasi lokasi lah. Sesekali jepret kamera walaupun pakai kamera ponsel. Tapi yang Penulis foto itu objek atau lokasi sekitar, loh, ya. Bukan swafoto narsis ga jelas. Ada swafoto, tapi sekedar aja.

Nah, waktu Penulis lagi di tiga negara itu, sepenjang perjalanan itu Penulis mikir, oh, jadi kesibukan orang Singapura itu gini; oh, ternyata kebanyakan orang Singapura tinggal di tempat kaya gini; oh, MRT dan LRT itu begini toh; oh, ternyata pemukiman di sini itu begini, ya, dan sebagainya. Nah, setelah muncul oh-oh tersebut, mulailah pikiran Penulis menghubungkan situasi di sana dengan situasi di Indonesia. Hmm, bagusnya yang kaya gini diterapkan di Indonesia; ah, di Indonesia lebih baik di sektor ini, kok; wah, keren! Kapan Indonesia kaya begini, ya? dan seterusnya dan seterusnya. Jadi perjalanan Penulis itu diisi dengan berpikir.

Apa Penulis bisa menikmati 'jalan-jalan' yang begitu?

Syukurnya, bisa. Dengan cara itulah Penulis menikmati perjalanan. Penulis malah ngerasa rugi kalau pergi ke suatu tempat tapi ga bisa mempelajari sesuatu dari sana. Tapi ini ga berlaku untuk jalan-jalan ke 'emol' ya. Kalau ke 'emol' itu pengecualian.

Kayanya Penulis udah melenceng dari jalur, nih. Balik-balik!

Oke, jadi negara mana yang Penulis pengen kunjungi? Jeng jeng jeeeeeeeeng! JEPANG!

Hohoho! Kenapa Jepang?

Awalnya itu dari masa kecil dulu. Kalau kalian generasi 90-an, pasti familiar dengan kartun-kartun Jepang yang biasa ditayangkan di televisi setiap hari minggu mulai dari subuh sampai tengah hari. Ada Chibi Maruko-chan, Hamtaro, Let's Go, Doraemon, Crayon Shinchan, Ninja Hatori, P-Man, Saint Seiya, dan masih banyak lagi. Masih pada inget? Beberapa masih ditayangkan, sih, kaya Doraemon dan Ninja Hatori. Tapi kebanyakan udah dihentikan penayangannya. Kadang kangen, sih masa-masa itu. Tapi ya sudahlah, kembali ke jalur!

Dengan banyaknya kartun Jepang yang Penulis tonton waktu kecil (sampai sekarang juga elu masih kecil! Kagak gede-gede dari dulu!), Penulis jadi familiar dengan negeri asal bunga sakura itu. Gimana uniknya rumah-rumah mereka, kebiasaan-kebiasaan mereka, bahasanya.

Tapi mulai Penulis duduk di bangku SMP hingga SMA, pengaruh Jepang mulai tergerus, digantikan dengan pengaruh barat lewat lagu-lagu dan film-film mereka. Sampai akhirnya ketika Penulis masuk ke dunia perkuliahan, Jepang mulai kembali mempengaruhi Penulis. Penyebabnya, ANIME.

Jadi teman sekamar Penulis dulu itu suka banget mengunduh serial singkat Anime dari internet terus ditonton di kamar. Mau ga mau Penulis ikutan nonton dong, ya. Eh, lama kelamaan jadi ketagihan, pengen lagi, pengen nambah, pengen nonton terus. Ditambah lagi, karena Penulis kuliah di program studi pendidikan, otomatis Penulis harus tau gimana sih sistem pendidikan di negara lain. Dan hal ini membuat Penulis jadi makin jatuh cinta dengan Jepang. Sistem pendidikan di Jepang itu bagus, ini menurut Penulis, ya.


Di awal masa pendidikan (kelompok bermain, PAUD, TK, hingga sekolah dasar kelas 3), para siswa ditanamkan nilai-nilai moral yang baik seperti budaya antri, memberi salam, cara makan dengan sumpit yang benar, dan sebagainya. Jadi ga cuma nilai moral, nilai budaya mereka juga diterapkan ke anak-anak, supaya nantinya budaya mereka akan terus diturunkan ke generasi selanjutnya.

Nah, sebenarnya di Indonesia sendiri, Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga sudah berupaya agar adanya pengaruh moral di dalam kegiatan belajar mengajar. Hal itu tertuang di dalam Kurikulum 2013 (K13) di mana terdapat penilaian terhadap sikap siswa selama KBM dengan harapan bahwa untuk unggul atau untuk naik ke tingkat berikutnya, siswa tak hanya harus baik secara kognitif dan motorik, melainkan juga harus baik secara sikap dan perilaku. Sayangnya, kita lupa bahwa nilai moral itu bukan untuk dinilai, tapi diterapkan. Maka dari itu, pengaplikasian K13 di sekolah kurang mempengaruhi sikap dan perilaku siswa. Yang ada malahan, pengaplikasian K13 semakin memberatkan tugas guru karena bertambahnya poin penilaian.

Waaaaah! Pinter banget elu komentar, ya!

Nah, itu dia masalahnya. Penulis di sini bukan siapa-siapa. Bukan pejabat yang bisa secara langsung membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Penulis cuma bisa membagi buah pikiran Penulis lewat postingan blog ini. Kalau ada yang baca, kemudian tergerak hatinya untuk membuat perubahan, syukur alhamdulillah.

Itu doang yang bikin elu pengen ke Jepang?

Engga, tentu aja. Penulis juga penasaran gimana sih keseharian masyarakat di sana. Ga puas rasanya kalau cuma liat di televisi atau Youtube. Penulis pengen menetap di sana selama beberapa bulan, berbaur sambil mengamati kehidupan di Jepang, kemudian menerapkan hal-hal baik yang bisa Penulis ambil dari sana.

Kira-kira, Pemerintah buka lowongan untuk pengamat kaya Penulis engga, ya? Tinggal di negeri orang beberapa bulan, terus kembali dengan segudang hal positif yang bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Penulis ga perlu jalan-jalannya kok. Seriusan. Penulis menganggap jalan-jalannya itu bonus. Yang penting adalah ada hal baik yang bisa diambil dari kunjungan itu.

Ahahahaha! Kayanya Penulis kebanyakan mimpi, ya? Ga masalah, dong. Bukannya semua berasal dari mimpi?

Sebenarnya masih ada satu lagi negara yang Penulis pengen kunjungi, Finlandia. Sama kaya di Jepang, Penulis juga penasaran gimana, sih, kehidupan di sana. Kalau baca dari postingan orang di internet, sih, katanya di Finlandia itu kehidupannya serba teratur. Maka dari itu Penulis pengen ke sana, membuktikan seteratur apa, sih, hidup orang Finlandia itu. Ada yang mau jadi donatur untuk Penulis? Hehehe...

Oke, Penulis rasa Penulis cukup cerita tentang keinginan Penulis. Kalau kamu gimana? Pengen ke Jepang juga? Atau ke negara lain? Monggo bagi di kolom komentar!

Friday, March 17, 2017

Aplikasi yang Wajib Ada di Ponsel Pintar Saya


Helow! Long time no see!

Penulis balik lagi, nih. Setelah berminggu-minggu hiatus tentu aja, hehehe. Sebenarnya ide untuk menulis mengalir terus di kepala. Yang pengen nulis cerita tentang ini lah, atau pengen topik itu dibuat begitu lah, macam-macam. Tapi giliran udah di depan laptop, buyar semua. Pikiran buntu mendadak. Yah, mungkin emang lagi masanya ini pikiran lagi ga bisa diajak kompromi, jadi, let it flow.

Topik kali ini sangat ringan, Si Wawa (Psst, klik aja namanya untuk liat isi blog-nya, bagus-bagus lho tulisannya) yang mengajukan. Dia pengen tau apa aja sih isi ponsel pintar kami, para ABC. Oke, mari kita bongkar satu-satu.

Aplikasi yang Kudu Dipasang di Hape Penulis


Well, ponsel pintar sekarang ini udah bukan barang yang WOW lagi. Hampir di setiap lapisan masyarakat, ga peduli dari lingkungan yang bagaimana, ga peduli umur berapa, pasti kena kontaminasi benda mungil yang satu ini. Bahkan ini ya, lebih gampang menemukan orang yang pegang ponsel dibanding menemukan uang 1000 rupiah. Fungsinya gimana? Ya itu kembali ke orang yang memakainya. Masing-masing perusahaan produsen ponsel pintar sekarang ini lagi berlomba-lomba untuk menanamkan fitur-fitur terbaik di ponsel pintar besutan mereka. Tinggal kamunya bisa memanfaatkan itu dengan baik atau engga. Oke, sip. Sekarang giliran Penulis menunjukkan isi ponsel pintarnya.

1. Media Sosial

Aplikasi yang termasuk media sosial yang ada di ponsel Penulis itu diantaranya: Whatsapp, BBM, Line Lite, Tweetcaster, Instagram, dan Facebook Lite. Lumayan banyak, ya? Yah, karena kebutuhan juga, sih. Kalau Penulis ditanya, apa aplikasi media sosial yang paling diperlukan, Penulis bakalan jawab Whatsapp, Instagram, dan Tweetcaster.

Kenapa cuma tiga itu?

Pertama, Whatsapp. Dari jaman awal Penulis punya ponsel android, Whatsapp inilah yang menurut Penulis paling bisa diandalkan. Whatsapp bisa berjalan walau jaringan kurang stabil. Selain itu, tanda pesan itu terkirim atau udah dibaca jelas. Mungkin BBM yang pertama kali punya tanda yang jelas, tapi BBM di ponsel Penulis ga ramah sinyal. Keunggulan lain, kontak pengguna di Whatsapp itu disinkronisasi dengan kontak telepon, jadi kalau di kontak telepon kamu ada yang pakai Whatsapp, dia akan otomatis masuk ke kontak Whatsapp kamu. Jadi seandainya dia ga bisa dihubungi via Whatsapp karena sedang luring (offline), kamu bisa menghubunginya lewat nomor ponsel yang tersimpan di kontak.

Kedua, Instagram. Aplikasi (situs) berbagi foto dan video ini jadi favorit Penulis saat ini. Penulis suka liat-liat momen yang dibagikan teman atau akun-akun lain. Padahal kalau kita melongok ke belakang, Penulis pernah bilang ke salah satu teman, sebut saja Bang Boy, kalau Penulis ga suka dengan aplikasi yang satu ini. Mendasar, sih, alasannya, dulu Penulis mikirnya Instagram itu cuma buat ajang narsis (karena percaya atau engga, dulu itu yang Penulis temukan). Tapi makin ke sini, Instagram makin banyak fungsinya kok. Untuk membagi momen itu, sih, yang menurut Penulis paling terasa. Mungkin di Facebook kita bisa cerita banyak lewat status, bisa unggah foto juga. Tapi sebagian postingan kaya cuma curhatan orang doang. Tapi terserahlah, itu, kan, menurut kacamata Penulis.

Ketiga, Tweetcaster. Hehehe, kalau di aplikasi ini, malah Penulis yang suka curhat ga jelas. Pembatasan karakter yang cuma 140 biji itu bikin curhat terasa pas. Dan lagi, ga banyak temen Penulis yang aktif di Twitter, jadi Penulis bebas nge-spam di situ. Ga banyak bukan berarti ga ada, ya. Karena ada satu dua temen yang malah memantau Penulis via Twitter untuk tau keadaan Penulis saat ini. Terus waktu kami ketemu, dia bakalan bahas kicauan Penulis.

2. Peramban

Kalau bicara peramban (browser), Penulis kaya bicara tentang pacar.

Kenapa gitu?

Iya, soalnya Penulis itu kalau udah suka pakai peramban ini, ya udah yang ini aja.

Peramban pertama yang Penulis suka itu Opera Mini. Ini Penulis gunakan sejak Penulis masih pakai ponsel Nokia. Bahkan di laptop juga Penulis pakai ini lho. Setelah Penulis mulai menggunakan ponsel android, waktu itu Samsung Galaxy Y, Penulis mulai kenalan dengan peramban lain seperti UC Browser, tapi belum bisa menggeser posisi Opera Mini. Tapi sejak ganti ponsel ke Asus Zenfone 4, Penulis berubah haluan ke Chrome, sampai sekarang.

3. Hiburan

Aplikasi hiburan yang Penulis maksud di sini untuk musik dan video, loh, ya. Nah, untuk pemutar musik, Penulis pakai aplikasi Musixmatch, soalnya ada fitur penampil lirik lagunya. Selain itu, kalau liriknya ga sinkron sama lagunya, bisa diatur ulang. Mungkin yang lain banyak aplikasi serupa, tapi Penulis udah terlanjur jatuh cinta sama aplikasi pemutar musik yang satu ini. Kedua, untuk video. Penulis mengandalkan aplikasi Youtube. Alasannya, karena itu bawaan dari androidnya. Males pilih-pilih yang lain lagi.

4. Permainan

Walaupun umur makin tinggi, Penulis tetap suka main game di ponsel, kok. Tapi, ya, ga sebanyak dulu. Jadi, setelah Penulis cek di ponsel Penulis, cuma ada 3 aplikasi permainan. Candy Crush Saga, Duel Otak, dan Pou. Yang paling sering Penulis mainkan, ya, Candy Crush Saga. Paling pas untuk menghilangkan rasa bosan, paling cocok dimainkan untuk menghindari situasi awkward waktu ketemu orang di saat yang ga tepat.

5. Literasi

Kalau aplikasi yang berhubungan dengan sastra atau dunia kebahasaan, di ponsel Penulis ada 5 biji, Kamusku, KBBI V, Memrise, Learn Japanese, dan Wattpad.

Pertama, Kamusku. Penulis ga bisa memungkiri kalau aplikasi ini penting banget untuk Penulis. Gimana engga, Penulis kan sekarang udah ngajar, Bahasa Inggris, dan pastinya ga semua kata Penulis tau gimana pelafalannya. Aplikasi inilah yang jadi malaikat penolong, karena selain bisa cari arti dari kata, di aplikasi ini juga ada fitur pelafalan kata. Jadi kalau kamu ga tau gimana cara mengucapkan suatu kata, aplikasi ini bisa bantu kamu. Jadi kamu ga bakal malu karena salah pelafalan.

Kedua, KBBI V. Bagi orang yang suka menulis, aplikasi wajib kamu punya. Soalnya ini versi terbaru dari KBBI, resmi dirilis oleh Kemendikbud, jadi udah ga diragukan lagi keabsahannya. Kamu ragu kata yang kamu tulis itu baku atau engga? Cek aja di aplikasi ini. Soalnya di keterangannya jelas apakah kata itu baku atau engga.

Ketiga, Memrise. Aplikasi ini baru beberapa hari aja nangkring di ponsel Penulis. Tujuannya adalah karena Penulis lagi pengen belajar bahasa asing, Bahasa Jepang. Iya, Penulis lagi semangat belajar bahasa asing. Ga cuma Bahasa Jepang, sih. Bahasa Mandarin juga pengen. Tapi untuk saat ini mulai yang Jepang dulu. Aplikasi Memrise ini bener-bener asik dipakai untuk belajar. Jadi kita akan diperkenalkan dengan beberapa kata, tulisan hiragana-nya, pelafalannya, kemudian ada latihannya juga. Bagusnya, sih, kalau dilakukan setiap hari, jadi cepat ingetnya. Aplikasi ini ga cuma menyediakan Bahasa Jepang, lho. bahasa yang lain juga banyak, bahkan ada pilihan topiknya juga. Untuk mendukung, Penulis juga pakai aplikasi Learn Japanese. Aplikasi ini berisi ekspresi-ekspresi yang dipakai untuk situasi tertentu. Banyak pilihan situasinya, ada greetings, numbers, questions, dan masih banyak lagi.

Terakhir ada Wattpad. Ini aplikasi berbagi cerita gratis. Penulis suka baca-baca cerita di sini karena walaupun gratis, tulisan di aplikasi ini bagus-bagus. Bisa jadi bahan inspirasi sekaligus menambah perbendaharaan kata Penulis. Penulis juga nulis di situ, tapi untuk kalangan tertentu aja, hehehe.

6. Jadwal Sholat

Aplikasi yang satu ini berguna bagi Penulis yang suka banget menunda waktu sholat. Jadi Penulis tau waktu subuh abisnya kapan, dzuhur mulainya kapan. Alhamdulillah, dengan aplikasi ini, kemungkinan untuk melewatkan waktu sholat karena lupa waktu jadi berkurang.

Sebenarnya masih ada beberapa aplikasi yang penting, tapi setelah Penulis baca lagi postingan ini, udah cukup panjang. Jadi 6 poin di atas udah bisa lah mewakili isi keseluruhan dari ponsel Penulis. Kamu punya aplikasi yang lebih keren? Monggo bagi-bagi di kolom komentar!

Friday, March 3, 2017

Pertanyaan-Pertanyaan yang Sering Muncul di Pikiran Saya


Warvyazah! Postingan Penulis untuk Bloggers’ Challenge kali ini beneran telat. Padahal topik ini Penulis sendiri yang mengajukan. Warvyazah! Iya, jadi tiga minggu yang lalu itu giliran Penulis yang kasih topik, tapi karena ga tau mau kasih topik apa, akhirnya Penulis mengajukan topik ini, ‘Pertanyaan yang Sering Muncul di Pikiran.’

Kok bisa kepikiran untuk mengajukan topik ini?

Iya, soalnya Penulis sering mengalami saat di mana pikiran Penulis dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang sebagian besar cuma bisa dijawab oleh Penulis sendiri. Harapannya, sih, biar gampang menulisnya, jadi ga sampai berhutang. Nyatanya, berhutang sampai tiga minggu malah. Ahahahaha!

Penasaran pertanyaan apa yang sering muncul di pikiran Penulis? Engga? Bodo amat! Mau kalian penasaran atau engga, Penulis bakalan tetap nulis itu di sini kok, weeeeek!

Pertanyaan yang Sering Terngiang di Pikiran

1.  Mau Makan Apa?

Pertanyaan pertama ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul di pikiran Penulis. Ini muncul hampir di setiap waktu makan. Jadi kalau satu hari Penulis tiga kali makan, maka pertanyaan ini akan muncul tiga kali.

Kenapa pertanyaan ini jadi begitu krusial bagi Penulis?

http://www.rumahgreenworld.com/wp-content/uploads/2015/05/penurun-nafsu-makan.png
Iya, Penulis tipe orang yang agak (inget, ya, agak) jaga makan. Artinya, Penulis bakalan pilih-pilih makanan yang mau Penulis makan. Jadi pertanyaan tentang makan ini menjadi sangat penting. Misalnya, nih, kemarin Penulis udah makan bakso. Nah, hari ini, bakso akan Penulis hapus dari daftar makanan yang boleh Penulis makan. Atau misalnya lagi, tadi pagi udah makan nasi, siangnya juga udah makan nasi, sebisa mungkin waktu malam Penulis memilih makanan yang bukan nasi. Mau sate, pempek, mi rebus, terserah, deh. Pokoknya bukan nasi.

Kebetulan di sekitar kost Penulis itu banyak tempat makan, otomatis banyak pilihan. Banyaknya pilihan yang ada ga membuat Penulis gampang milih, malah sebaliknya, Penulis susah menentukan mau makan apa. Jadi pernah, beberapa kali kejadian sih, Penulis mulai tanya ‘mau makan apa?’ itu jam 7 malam. Warvyazah-nya, jawabannya baru dapat sekitar jam 9 malam. Dan lebih hebatnya lagi, waktu Penulis udah sampai di tempat yang dimau, tempatnya tutup (sebagai tambahan, Penulis itu tipe orang yang kalau udah sreg di satu tempat untuk satu menu makanan, Penulis cuma bakalan mau beli di situ. Misalnya tempat jual sate yang menurut Penulis rasanya pas di lidah Penulis itu di depan dealer mobil Hino dekat simpang STIPAP/Rumah Sakit Haji, ya udah, setiap Penulis mau makan sate, Penulis bakalan makan/beli di situ. Atau nasi goreng, Penulis jatuh cinta sama nasi goreng yang ada di jalan Perjuangan, di seberang warung bakso Annisa. Jadi kalau Penulis lagi pengen makan nasi goreng, ya beli di situ). Kalau udah gitu, Penulis akan mulai keliling mulai dari jalan Pancing (Willem Iskandar), terus ke jalan Tuasan, lanjut ke jalan Pimpinan, sampai akhirnya ketemu jalan Pancing lagi. Warvyazah, kan?

2.  Nanti Pakai Baju Apa?

Pertanyaan kedua ini adalah pertanyaan paling sering kedua yang muncul di pikiran Penulis, biasanya di pagi hari.

Penulis orangnya perfeksionis? Atau penggila fesyen, ya?

Ahahahaha, perfeksionis, mungkin. Tapi kalau penggila fesyen, jauh deh. Pertanyaan ini muncul karena Penulis ga mau sampai baju apa yang Penulis pakai itu mengganggu atau merusak hari Penulis.

Gimana cara Penulis jawab pertanyaan ini?

Nah, langkah pertama yang Penulis buat untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan mengecek jadwal Penulis secara teliti hari itu.

Teliti gimana?

Ya, teliti. Hari ini mau kemana, apa yang akan Penulis lakukan di sana, siapa aja yang akan Penulis jumpai, terus berapa lama Penulis di tempat itu. Pengecekan jadwal ini juga di sesuaikan dengan cuaca. Langkah berikutnya, Penulis akan cek stok pakaian yang tersedia di lemari.

Misalnya kalau Penulis seharian itu mau ke Belawan untuk cek lokasi, Penulis mau ketemu sama beberapa orang tua dalam situasi yang ga formal, Penulis akan memilih untuk memakai baju kaos dengan lengan panjang atau baju kaos lengan pendek yang dipadukan dengan jaket, mengingat cuaca di Belawan itu panas luarbiasa. Untuk bawahan, Penulis akan pilih celana bahan (biasa disebut celana keper) atau bisa juga celana training karena pertimbangan Penulis yang mau cek lokasi. Terakhir untuk sepatu, Penulis akan memilih sepatu yang ringan sekaligus elastis. Biasanya sih yang Penulis pakai itu sepatu olahraga karena dua kriteria itu terpenuhi.

Ribet banget hidup lho!

Bodo amat, daripada ntar rugi di tempat? Emang situ mau tanggungjawab? Kagak kan? Selow kelen di boncengan!

3.  Hari Ini Mau Ngapain? 

Dulu pertanyaan ketiga ini sering muncul waktu akhir pekan. Sekali lagi Penulis tegaskan, dulu. Kalau sekarang, ga bisa lagi pertanyaan itu muncul karena setiap akhir pekan udah ada jadwal.

Sok sibuk, nih, yeeee

Ihihihihihi, ga mau bilang kalau sekarang ini sibuk. Tapi Penulis ga bisa menyangkal kalau tiga minggu belakangan ini Penulis hampir ga punya waktu untuk diri Penulis. Kalau weekdays, udah ngajar mulai pagi sampai jam 10. Dari jam 10 sampai jam 3 sore, Penulis kosong, tapi biasanya udah ada hal yang harus dilakukan. Jam 3 sampai jam 6 ngajar lagi. Nyampe kost sekitar jam setengah 7, istirahat bentar sekaligus makan malam, jam 8 pergi lagi, biasanya paling cepat pulang jam 11. Nyampe kost udah cukup lelah, biasanya langsung tidur. Gitu terus dari senin sampai jumat. Kalau akhir pekan, lebih parah. Bisa lebih dari 12 jam ada di luar kost.

Kalau dulu, setiap akhir pekan itu Penulis hampir ga punya kegiatan yang berarti. Jadi akhir pekan itu benar-benar Penulis manfaatkan untuk bersantai, mengistirahatkan badan setelah lima hari wara wiri. Bahkan pulang kampung pun malas karena memikirkan macetnya jalanan. Maka dari itu pertanyaan ketiga ini bisa muncul.

4.  Kapan Mau Move On?

Hehehe, cerita perasaan kita, ya? Iya. Pertanyaan ini biasanya muncul waktu malam sebelum tidur kalau kondisi badan ga begitu lelah, atau setelah beribadah kalau ga ada hal yang dilakukan setelahnya.

Kenapa bisa muncul pertanyaan ini?

Iya, soalnya, agak malu sih ngakuinya, hamba yang ga luput dari dosa ini masih terpaut hatinya dengan seseorang. Dan sayangnya seseorang itu udah jelas-jelas ga mau lagi dengan Penulis. Makanya ga ada jalan lain selain move on, ya kan? Ngomongnya gampang banget, tapi melaksanakannya, yaaaah, susah susah gampang lah. Pernah tiba di satu titik di mana Penulis ngerasa udah move on, eh, sekalinya dikasih mimpi tentang do’i, Penulis uring-uringan lagi. Itulah sebabnya sering Penulis menanyakan pertanyaan ini ke diri Penulis sendiri.

5.  Mau Jadi Apa?

Ini pertanyaan yang bener-bener berat. Biasanya muncul waktu Penulis lagi merenung sendirian di kamar.

Serem amat, ga takut kesurupan?

Ini Penulis merenung, kok, bukan melamun. Penulis merenungkan hal-hal yang udah terjadi, juga hal-hal yang Penulis rencanakan kedepannya. Salah satu pertanyaan yang muncul itu, ya, pertanyaan ini. Dan biasanya Penulis stuck, nge-blank. Iya, Penulis ga tau mau jadi apa.

Bukannya Penulis mau jadi dosen, ya?

Itu cuma jawaban cepat, jawaban singkat. Sama kaya waktu anak SD ditanya apa makanan favorit mereka, kebanyakan mereka akan menjawab ayam goreng atau nasi goreng padahal bukan itu makanan kesukaan mereka. Mereka jawab itu karena dua makanan itu yang paling cepat muncul di pikiran mereka, karena dua makanan itu yang paling sering mereka jumpai sehari-hari. Tapi kalau ditilik lebih jauh, beberapa mungkin malah lebih suka semur ayam, atau beberapa lebih suka sambal tempe. Semacam itulah. Penulis menjawab dosen karena itu yang pertama kali muncul di pikiran, karena itu yang paling mungkin Penulis raih saat ini.

Kenapa Penulis ragu?

Jawabannya sederhana, karena Penulis takut ga siap melakukan rutinitas yang itu-itu aja, takut ga siap menghadapi situasi yang sama terus menerus. Penulis takut bosan, dan takut rasa bosan itu mempengaruhi kinerja Penulis.


Udah, deh, ya. Pembicaraan kita udah terlalu serius. Penulis ga suka. Mari kita akhiri aja cerita di topik kali ini.


Jadi gimana menurut kalian tentang pertanyaan yang sering muncul di pikiran Penulis, ada kesamaan? Atau kalian punya pertanyaan yang lebih spektakuler? Monggo ke kolom komentar, yak!

Tuesday, February 21, 2017

Para Pemberi Inspirasi di Hidup Saya


Hohoho!

Sebenernya ini postingan telat, harusnya udah dari dua minggu yang lalu. Tapi apa daya, mood untuk menulis lagi ga di badan. Kalau waktu sebenernya ada aja, tapi ya gitu, karena si mood, ngutang deh akhirnya untuk challenge dua minggu yang lalu. Mood ini susah banget diajak kerjasama, dan sialnya, kalau mood ga jalan, ide di kepala pun mandeg. Idenya ada, tapi untuk dituangkan ke tulisan itu ga akan memuaskan hasilnya. Baiklah, cukup excuse-nya, masuk ke materi aja.

Oke, topik Bloggers’ Challenges dua minggu yang lalu itu dari Dwita, kalau penasaran gimana tulisan dia, bisa dicek di blog Dwita di sini. Dia mau ABC (Anak Bloggers’ Challenges) bikin tulisan tentang orang-orang yang menginspirasi Penulis untuk menulis, juga menginspirasi di hidup Penulis. Kita cek satu-satu, ya.

Inspirator Menulis


http://assets-a2.kompasiana.com/statics/files/1420360486390535526.jpg?t=o&v=760
Ini poin udah pernah Penulis buat untuk postingan Bloggers’ Challenge dari Wawa (kalau kalian mau tau siapa cewek rame ini, cek aja blognya di sini) di masa awal BC (Bloggers’ Challenges) dibentuk. Waktu itu Wawa minta kami untuk cerita tentang Lima Penulis Idola kami. Di situ Penulis udah nyebutin lima penulis yang Penulis suka. Tapi bicara tentang inspirasi menulis, sebenarnya Penulis itu hampir ga pernah terinspirasi untuk menulis dari tulisan orang.


Biasanya setelah membaca hasil tulisan salah seorang penulis, Penulis akan secara otomatis mengikuti gaya penulisan si penulis yang tulisannya baru Penulis baca. Makanya ga heran kalau kadang gaya penulisan Penulis agak kaku, terus di lain kesempatan, gaya penulisan Penulis jadi kocak. Penulis gampang terkontaminasi, gitu lah istilahnya. Jadi Penulis ga bener-bener terinspirasi secara ide, hanya secara gaya penulisan. Kalau ide, hampir semua pure dari kepala Penulis, orisinillah pokoknya. Makanya kalau ada pembaca yang bilang tulisan Penulis mirip tulisan si anu, Penulis tekankan kalau penulis engga tau, Penulis ga plagiat. Mungkin kami punya ide yang mirip, itu aja.

Inspirator Hidup


Nah, kalau poin ini, belum ada, makanya Penulis bakalan cerita satu-satu.

1. Abi

Abi itu lawan begadoh sepanjang masa. Kalau Penulis lagi ada di rumah, hampir tiada satu haripun yang berlalu tanpa suara perdebatan kami. Topik debat bisa apa aja, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Kalau udah dirasa debat berlangsung alot, Ummi akan bertindak sebagai wasit untuk menghentikan perdebatan kami. Tapi begitupun, kami tetap saling menyayangi, kok. Yah, walaupun cara menunjukkan sayangnya itu dengan ngomel, tapi ngomel kan tanda kalau kami masih saling peduli.

Nah, apa yang membuat Abi jadi inspirator Penulis?

Inget pepatah yang bilang tak ada rotan, akar pun jadi? Nah, itu artinya, yang Penulis kutip dari blogogon.blogspot.co.id, kalau ga ada sesuatu yang baik, maka yang kurang baikpun bisa digunakan untuk menggantikan.

Apa hubungannya dengan cerita tentang Abi?

Ga ada. Ahahahahahaha.

Jadi, nih, ya, ada beberapa hal yang Penulis ilhami dari Abi. Pertama, Abi selalu bilang ke Penulis untuk ga usah terlalu dekat dengan orang lain. Makanya Penulis sering dimarahi kalau mau diajak ngumpul sama temen. Ngumpul yang Penulis maksud ini ngumpul yang sekedar ngumpul, ga ada urusan dengan kerjaan atau sekolah. Tujuan Abi baik kok, beliau cuma mau menghidarkan Penulis dari rasa kecewa. Mungkin beliau pernah dikecewakan temennya dulu, makanya beliau ga mau Penulis ngerasain hal yang sama. Tapi ya, gitu, Penulis bandel, masih mau juga ngumpul-ngumpul sama temen. Dan bener, beberapa kali Penulis kecewa.

Kedua, Abi orangnya individualis. Bukan berarti Abi ga punya temen, Abi punya kok. Tapi, ya, sekedar berkawan. Ada sih, beberapa yang dekat, bahkan sampai sekarang masih tetap komunikasi, tapi beneran cuma sedikit, bisa dihitung pakai jari. Kalau dari yang Penulis tangkap, paham Abi tuh, begini, banyak kawan banyak masalah, untuk apa banyak kawan kalau busuk. Nah, berangkat dari itulah, Penulis juga membatasi diri. Padahal Penulis ikutan komunitas, loh. Kadang bahkan ikutan kegiatan komunitas lain juga. Tapi, ya, gitu, sekedar aja. Selesai acara, selesai kegiatan, bubar masing-masing. Ga ada cerita ketemu-ketemu di luar itu untuk saling mengenal lebih jauh. Makanya kadang keteteran kalau tiba-tiba sakit, terus ga tau mau minta tolong siapa. Yang biasanya direpotkan, sih, Bang Boy (sstt, Abang ganteng yang satu ini juga punya blog, ini link-nya), Amru (mantan kawan sekamar Penulis ini punya blog juga, cek di sini), Anggi, dan beberapa kawan lain.

Ketiga, Abi juga menanamkan untuk ga usah memikirkan hal yang ga perlu. Urusan orang lain, misalnya. Pokoknya selagi orang lain itu ga bersinggungan, ga usah dipikirin, lah. Padahal Abi ini orangnya over thinking, lho. Beberapa tahun yang lalu sempat kena stroke ringan perkara mikirin yang engga-engga. Alhamdulillah, udah balik normal. Penulis makin ga mau mikirin urusan orang lain dong, ada bukti nyata gitu.

2. Ummi

Nah, kalau Ummi (kami anak-anaknya lebih sering panggil Umi ketimbang Ummi) itu kawan bergosip, kawan curhat Penulis. Kalau ada waktu pulang, biasanya setelah dipaksa sih, ahahaha, Penulis akan nempel ke Ummi, tujuannya ya biar bisa cerita-cerita. Ga peduli tempat, mau di dapur, kek, di kamar, di ruang tamu, pokoknya bisa dipakai untuk ngobrol berdua. Kalau ada si Dila, ngobrol bertiga lah kami.

Apa yang menginspirasi dari Ummi?

Banyak, tapi Penulis ambil sebagian aja. Pertama, Ummi itu jarang banget marah, kalau ngomel sering. Ummi lebih suka diam kalau lagi marah. Sikap beliau yang kaya gitu lah yang Penulis aplikasikan ke diri Penulis. Jadi Penulis lebih memilih diam waktu marah. Kalau masih ngomel, itu berarti Penulis belum marah. Ya, gimana lagi, kalau marah, Penulis sakit. Waktu PPL (Program Pengalaman Lapangan) dulu sering marah ke siswa, alhasil setiap pulang ngajar jadi langganan demam. Sorenya baru agak mendingan. Karena efek negatif itulah, akhirnya Penulis memutuskan untuk ngikutin cara Ummi, dan alhamdulillah berhasil.

3. Kak Ria

Kak Ria ini kakak kandung Penulis. Hampir ga pernah terekspos media karena dia bukan artis, hehehe. Kak Ria ini lumpuh dari lahir, makanya jarang banget keluar rumah. Kegiatannya lebih banyak dihabiskan di ruang keluarga, nonton TV. Acara kesukaannya itu ga jauh-jauh dari selera abege cewek, acara musik yang menampilkan band-band cowok Indonesia. Noah, Ungu, Nidji, dan kawan-kawan, Kak Ria lebih tau dari kami. Tapi karena Kak Ria ga bisa ngomong dengan normal, makanya dia cuma bisa teriak histeris waktu grup band itu mampang di TV. Sama kaya penggemar boy band Korea lah.

Nah, apa nilai yang Penulis ambil dari Kak Ria?

Tetap berusaha bahagia. Iya, Kak Ria itu seakan ga peduli dengan segala keterbatasannya. Makan mesti disuapi, mandi ya dimandikan, mau kemana-kemana mesti diangkat. Tapi Kak Ria hampir ga pernah murung. Bahagia terus bawaannya. Padahal, nih, ya, setiap ada orang datang ke rumah terus ngeliat keadaan Kak Ria, mereka pasti ngeliat Kak Ria dengan ekspresi yang miris banget, ngerasa kasihan gitu. Padahal Kak Ria ga ngerasain hal itu. Kami satu keluarga juga ngerasa biasa aja dengan kondisi Kak Ria. Maka dari itu, Penulis selalu berusaha untuk tetap bahagia apapun keadaannya. Belajar dari Kak Ria itulah.



Penulis cuma kasih tiga orang aja di sini, sebenarnya banyak pake banget. Tapi paling engga, tiga orang ini udah cukup mewakili lah.

Gimana, kamu ada inspirator lain selain keluarga? Bagi-bagi dong di sini, tuh, di kolom komentar.

Yeeeee! Satu challenge selesai!

Tentang Moody

Halo pembaca kece! Di postingan kali ini, aku ditantang sama Kak Rina untuk menceritakan tentang tanggapanku terhadap seseorang yang mo...