Monday, September 4, 2017

Apa Pekerjaan Idamanmu?



Di postingan sebelumnya, Penulis udah cerita tentang pengalaman Penulis waktu mengikuti kompetisi. Udah pada baca dong ya? Eh?! Belum? Baca dulu, dong! Maksa nih! Ehehehe…

Nah, di postingan kali ini Penulis pengen cerita tentang dua pekerjaan idaman Penulis. Ide ini datangnya dari salah satu Anak Bloggers’ Challenge, si Trias. Jadi do’i pengen tau kira-kira apa sebenarnya pekerjaan yang diidam-idamkan oleh Anak Bloggers’ Challenge yang lain. Sebenarnya topiknya itu ‘Dua Pekerjaan Impian’. Tapi kok rasanya ga cocok kalau pakai kata impian, seakan-akan kemungkinan untuk direalisasikan itu kecil. Jadi Penulis ganti kata impian jadi idaman.

Dua Pekerjaan Idaman


Sebelum masuk ke pembahasan inti, kita cakap-cakap bentar dulu, ya?

Jadi, kita cerita tentang pekerjaan. Apa sih pekerjaan itu? Penulis sampai ngecek aplikasi KBBI edisi kelima lho untuk ini. Oke, jadi begini kata KBBI:
Pekerjaan à n barang apa yang dilakukan (diperbuat, dikerjakan, dan sebagainya); tugas kewajiban; hasil bekerja; perbuatan.
è n pencaharian; yang dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah.
è n hal bekerjanya sesuatu.

Memasak, asmaraku.com
Ada tiga tuh, ya? Pilih yang mana? Penulis pilih pengertian yang kedua. Jadi pekerjaan itu adalah hal yang kita lakukan untuk memperoleh uang, nafkah. Pekerjaan ini sifatnya kurang kuat, kurang resmi. Menyemir sepatu lalu kemudian mendapatkan upah itu pekerjaan. Mengeruk pasir di sungai kemudian menjualnya juga pekerjaan. Nah, kalau pekerjaan yang resmi itu namanya profesi. Bedanya dengan pekerjaan, untuk ‘melakukan’ profesi, seseorang harus menjalani pelatihan atau mengikuti pendidikan selama kurun waktu tertentu hingga selesai yang dibuktikan dengan surat keterangan atau sertifikat profesi, misalnya dokter, guru, dan masinis.

Oke, kita mulai masuk ke pembahasan. Jadi, apa kira-kira pekerjaan idaman Penulis? Kita fokus dulu ke kata idaman. Masih menurut KBBI, idaman adalah sesuatu yang didambakan atau diharapkan, bisa juga bermakna cita-cita atau hasrat.

Karena berhubungan dengan harapan, cita-cita, dan hasrat, tentu aja pekerjaan idaman itu adalah pekerjaan yang kita lakukan dengan sukarela, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Untuk menentukan dua pekerjaan idaman, Penulis perlu berpikir beberapa kali. Sempat terpikirkan untuk menyebutkan guru atau dosen, karena memang linear dengan status Penulis yang sarjana pendidikan. Tapi ternyata engga. Menurut pengalaman Penulis mengajar, baik di sekolah umum maupun di tempat kursus, terkadang terselip rasa malas atau enggan atau keberatan untuk datang ke sekolah atau ke tempat kursus. Itu berarti ada unsur paksaan di sana. Guru atau dosen resmi dicoret dari daftar pekerjaan idaman.

Karena bingung, akhirnya Penulis berpikir lagi. Seseorang itu ngga akan merasa terpaksa saat melakukan apa yang ia sukai. Yap! Bener banget. Pernah baca tulisan begini, ‘Seseorang yang mengerjakan sesuatu yang ia sukai, layaknya seseorang yang dibayar untuk melakukan hobinya’? Pasti pernah. Maka dari itu Penulis mulai ngubek-ngubek daftar hobi milik Penulis.

Sukarelawan, antarajatim.com
Pertama, memasak. Iya, walaupun Penulis laki-laki, Penulis suka masak, suka berjibaku dengan bawang dan kawan-kawannya di dapur. Ini suka, lho, ya, bukan pintar atau ahli. Jadi rasa hasil masakan Penulis itu jauh dari kata enak. Lantas apakah menjadi juru masak atau chef di restoran adalah pekerjaan idaman Penulis? Ternyata engga. Penulis hanya menjadikan memasak sebagai hobi pribadi, memasak untuk dimakan sendiri atau paling banter dimakan sama keluarga. Ngga ada niat memasak untuk orang banyak. Ntar mereka keracunan, ahahahaha!

Kedua, prakarya. Ini mungkin otak Penulis agak geser. Dari SD sampai SMA itu pegangannya IPA terus, waktu ikut OSN, mata pelajaran yang dipilih astronomi, terus kuliah prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Lha kok bisa suka prakarya? Penulis juga ngga tau. Penulis suka aja membuat sesuatu yang baru, biasanya dari benda yang ada di sekitar Penulis. Istilah kerennya itu recycle atau daur ulang. Apa aja yang pernah Penulis buat? Banyak! Mulai dari wadah pensil dari kotak susu bekas, hiasan pintu dari kertas karton sisa, sampai baju boneka berbi dari kaos kaki! Apa kemudian Penulis mau menjadikan prakarya sebagai pekerjaan idaman Penulis? Lagi-lagi engga. Prakarya itu erat hubungannya dengan perdagangan, dan Penulis adalah salah satu orang yang ngga cocok berkecimpung di ranah ekonomi dan bisnis. Ki Joko Bodo yang dulu kasih tau begitu waktu Penulis kirim SMS REG (spasi) WETON. Becanda, ekekekekek. Intinya Penulis ngga jago dagang. Ntar rugi.

Udah dua, dan dua-duanya bukan pekerjaan idaman Penulis. Terus apaan? Ini Penulis juga lagi mikir!

Dapat!

Pekerjaan idaman Penulis yang pertama adalah anggota lembaga kemasyarakatan yang dibayar untuk membantu masyarakat, entah itu di bidang sosial ataupun pendidikan. Iya, Penulis suka menolong orang dalam artian yang positif. Berawal dari kegiatan Penulis sebagai sukarelawan di salah satu organisasi sosial, Penulis merasa cocok. Lalu kemudian timbul pertanyaan, kenapa mau yang dibayar? Kenapa engga jadi sukarelawan aja? Yaaah, Penulis mencoba realistis. Kita hidup perlu uang (iya, tau, perlu udara, perlu air, perlu makanan, tapi kita lagi ngga membahas tentang biologi). Penulis juga butuh uang untuk menghidupi kehidupan Penulis sendiri. Dan lagi, jika kita diibaratkan sebagai sebuah teko, hanya teko yang berisi lah yang bisa membagikan manfaatnya. Kalau tekonya kosong, apa yang mau dibagi? Makanya, sembari menolong masyarakat, Penulis juga mengisi diri Penulis, supaya bisa lebih banyak berbagi.

Kedua, ahli membanding-bandingkan. Aneh, ya, pekerjaannya? Begini maksud Penulis, Penulis mau dibayar untuk berkelana ke seluruh penjuru dunia, melakukan studi banding guna memperbaiki kampung halaman. Penulis mau dibayar untuk keliling dunia, membandingkan sistem yang berlaku di masyarakat dan pemerintahan sana, me-review untung-ruginya penerapan sistem tersebut di kampung halaman Penulis, kemudian membuat perubahan demi masa depan yang lebih baik.

Macam-macam profesi, kerjadiaustralia.com
Oke, udah dua pekerjaan idaman yang Penulis utarakan di postingan kali ini. Semoga yang ngasih tantangan dan baca puas. Amin!


Kamu punya pekerjaan idaman yang sama dengan Penulis? Atau malah pekerjaan idaman kamu lebih keren? Cerita-cerita dong di kolom komentar. Kali aja kita bisa berbagi cerita. Yeeeee!

Friday, August 25, 2017

Bagaimana Pengalaman Mengikuti Kompetisi?



Whaaaaa! Kayanya udah lama banget ya, Penulis ga update tulisan di blog ini. Yah, gimana, ya, Penulis itu nulis karena emang suka, bawaan hati, jadi kalo hati lagi ngga pengen nulis, ya ga nulis. Jadi dari bulan Mei sampai udah mau abis Agustus ini Penulis lagi masuk pada masa di mana pikiran Penulis kemasukan banyak hal. Misalnya seleksi masuk UNS untuk studi magister, terus dilanjut kegiatan di organisasi yang ga abis-abis yang disambi dengan mengajar kursus. Memasuki bulan Juni, bulan Ramadhan, mood Penulis semakin ngga memungkinkan untuk nulis. Di bulan Juli, Penulis sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi beasiswa, semoga aja lulus, amin!

Kayanya udah cukup ngelesnya, ya? Baiklah, kita masuk ke topik bahasan.

Jadi topik kali ini si Rian pengen tau pengalaman masing-masing ABC (Anak Bloggers’ Challenge) saat mengikuti kompetisi. Well, sebenarnya ga banyak sih kompetisi yang pernah Penulis ikuti, tapi mari kita cek satu-satu ya!

Pengalaman Waktu Mengikuti Kompetisi


Seperti yang Penulis katakan di atas, Penulis ga punya banyak pengalaman kompetisi. Ya, gimana lagi, bakat yang Penulis punya cuma jadi orang yang menyebalkan dan jadi heart breaker alias tukang matahin hati anak orang. Jelas lah ga ada kompetisi yang bisa Penulis ikuti. Tapi seingat Penulis, Penulis pernah beberapa kali ikut lomba kok. Yok lah, kita cerita!

Lomba Antar Siswa di Madrasah


Jadi, dulu waktu Penulis masih duduk di bangku SD, Penulis sekolah di dua sekolah, SD umum dan Madrasah Ibtidaiyah atau biasa di singkat MI. Jadwal MI ini ngikutin jadwal SD. Kalo SD-nya masuk pagi, maka MI masuknya siang. Kalo SD-nya masuk siang, maka MI-nya masuk pagi.

Nah, setiap menjelang peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra’ Miraj, MI tempat Penulis sekolah bakalan mengadakan lomba untuk siswa-siswanya. Ada beberapa cabang lomba, misalnya lomba adzan, lomba sholat subuh, lomba menghapal surat pendek, juga lomba peragaan busana muslim.

Lomba yang biasanya Penulis ikuti itu cuma dua, lomba sholat subuh dan lomba menghapal surat pendek. Kalo lomba adzan, Penulis ga pernah. Ngeri rasanya. Boro-boro ikutan lomba, sekali terpaksa adzan di mesjid aja groginya setengah mampus. Itu baju udah kaya abis dipake olahraga saking gugupnya!

Di dua cabang itu, biasanya lawan Penulis para siswi atau siswa yang ngerasa bacaan sholatnya bagus. Dan seumur-umur Penulis ikut dua lomba itu, ngga pernah dapat juara pertama. Pasti kalo ngga di posisi kedua ya ketiga. Pernah bahkan Penulis dapet juara tiga dari tiga peserta. Terakhir dong! Ahahaha!

Lomba Nasyid Sekecamatan


Lanjut, nih cerita waktu di MI. Jadi dulu ada kegiatan tambahan yang sifatnya ngga wajib diikuti siswa MI yaitu nasyid atau dulu kami lebih sering menyebutnya selawatan. Kalo kalian ngga tau nasyid itu apa, ini Penulis jelaskan sedikit.

Nasyid itu ngga ubahnya dengan grup musik, cuma beda di komposisi personilnya. Jadi di nasyid itu ada penyanyi utama, biasanya tiga orang, terus ada penyanyi tambahan, biasa disebut penyanyi latar, mereka ini jumlahnya ngga tentu, bisa cuma lima, bisa lebih. Terakhir, pemusiknya. Ada beberapa alat musik yang umumnya dipakai di dalam kelompok nasyid. Ada gendang dengan tiga ukuran yang berbeda. Yang paling besar namanya bas, yang ukuran kedua namanya rebana, dan yang paling kecil namanya ketipung. Jumlah pemain gendang di grup nasyid Penulis itu satu orang pemain bas, dua orang pemain rebana, dan tiga orang pemain ketipung. Lanjut, alat musik berikutnya, mambo. Wujudnya itu dua batang bambu berukuran sedang yang disusun di atas penyangga kayu. Masing-masing bambu punya lubang membujur di salah satu sisinya. Pemainnya di grup Penulis cuma satu orang. Kemudian ada tamborin. Ini ada dua jenis, yang satu tamborin bolong, yang satu lagi tamborin berisi. Masing-masing ada satu pemain. Terakhir, yang paling besar, bedug. Ini juga cuma satu pemain.

Oke, itu gambarannya. Nah, sama seperti MI tempat Penulis sekolah, setiap menjelang peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan Isra’ Miraj, beberapa mesjid akan mengadakan lomba nasyid tingkat kecamatan. Grup kami selalu ikut, walaupun seingat Penulis ga pernah menang, soalnya saingannya remaja dan orang tua. Grup kami isinya anak-anak semua.

Lomba Menyambut Hari Kemerdekaan


Setiap menjelang 17 Agustus, Pemerintah Kecamatan tempat Penulis bermukim selalu mengadakan perlombaan. Biasanya yang dilombakan merupakan cabang olahraga seperti sepak bola, voli, dan bulu tangkis. Ada juga lomba Pasukan Baris Berbaris. Lomba PBB ini lah yang selalu Penulis ikuti selama duduk di bangku SMP. Sama seperti lomba nasyid, tim PBB Penulis juga ngga pernah meraih juara satu di lomba ini.


Olimpiade Sains USU


Penulis ingat waktu itu Penulis masih kelas dua SMA. Datang undangan dari USU untuk mengikuti olimpiade sains tingkat provinsi. Karena dulu Penulis ada di kelas unggulan, jadi kami ditawari terlebih dulu. Dan akhirnya terpilihlah lima orang siswa untuk mewakili sekolah. Penulis dipercaya untuk mengikuti olimpiade cabang mata pelajaran astronomi. Hasilnya adalah Penulis dapat ranking 36. Agak kesal, karena ternyata 30 besarnya diberi pelatihan di bidang masing-masing secara gratis oleh dosen USU selama satu bulan sebagai persiapan untuk OSN. Tapi yang berlalu biarlah berlalu.

OSN SMA


Selama SMA, Penulis dua kali menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten, yakni waktu Penulis kelas X dan kelas XI. Waktu kelas X, Penulis dijadikan tim pendukung, supaya nantinya bisa menjadi tim inti waktu kelas XI. Mata pelajaran yang Penulis pilih adalah fisika. Ngga banyak persiapan yang Penulis lakukan, karena pihak sekolah juga ngga berharap banyak. Dan sesuai dengan yang udah Penulis prediksi, Penulis ngga dapat juara. Cuma dua orang dari perwakilan sekolah yang mampu melanjutkan di tingkat provinsi.

Di kelas XI, seperti yang Penulis bilang di atas, Penulis dimasukkan ke tim inti. Dan memang persiapan waktu itu cukup matang. Semua siswa yang menjadi perwakilan sekolah diberikan pelajaran tambahan sepulang sekolah tiga kali seminggu. Bahkan pihak sekolah meminta beberapa guru bidang studi untuk membimbing kami, kecuali mata pelajaran astronomi, mata pelajaran yang Penulis pilih. Jadilah Penulis dan dua orang junior Penulis belajar secara otodidak, hanya mengandalkan buku fisika, geografi dan beberapa buku relevan yang ada dalam koleksi perpustakaan sekolah.

Dan alhamdulillah, usaha kami membuahkan hasil. Lima siswa, termasuk Penulis, meraih juara tiga besar sehingga diberi kepercayaan untuk mewakili kabupaten mengikuti OSN tingkat provinsi.

Seleksi tingkat provinsi dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama untuk mata pelajaran matematika, fisika, kimia, dan biologi. Sedangkan di hari kedua, mata pelajaran yang dipertandingkan adalah geografi, astronomi, dan TIK. Mungkin ada mata pelajaran lain, tapi Penulis lupa.

Kami dikumpulkan di Mess Naniko, berbaur dengan peserta dari kabupaten lain. Karena pelaksanaannya di sebuah mess, tentu aja kamar kami luas, hingga mampu menampung 16 orang dalam satu kamar. Hal ini membuat kami lebih mudah untuk mengakrabkan diri. Beberapa dari mereka bahkan masih menjalin hubungan dengan Penulis sampai saat ini.

Nah, di tingkat provinsi ini, Penulis kurang mempersiapkan diri. Materi yang keluar sebagai soal belum semua Penulis pelajari, terutama di bagian perhitungan. Awalnya Penulis mengira bahwa bentuk soal di provinsi sama dengan bentuk soal di kabupaten, yakni pilihan berganda. Ternyata, di tingkat provinsi, terdapat beberapa butir soal yang berbentuk esay dan uraian. Hal ini membuat Penulis kesulitan untuk mengerjakannya. Sudah pasti Penulis ngga lulus di tahap ini. Tapi ngga masalah. Penulis bisa sampai ke tingkat provinsi aja rasanya udah syukur banget. Bisa jadi tambahan pengalaman sekaligus teman.

Ini aja kali, ya yang bisa Penulis ceritakan dari pengalaman Penulis waktu mengikuti kompetisi. Mungkin ada beberapa yang ngga tercantukan di sini, tapi Penulis udah lupa.


Oke, Penulis udah selesai cerita, nih. Kamu punya cerita serupa? Atau malah lebih banyak lagi? Bagi-bagi dong di kolom komentar!

Cuplikan Kisah Bully



Huhuhuhuhuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu...

Udah lama banget kayanya Penulis ga update. Gimana lah, kemarin-kemarin itu asek sibuk aja, ya, kan. Yang mau ujian lah, bikin soal  ujian di tempat ngajar lah, ngurusin Pentaru lah. Sampai pada satu titik Penulis ngerasa penat. Belah aja adek di kolam renang Unimed yang dalamnya tujuh meter itu, Bang! Jiah! Malah curhat!

Tapi, yaaaa, yang namanya hidup itu dijalani, bukan dipikirin. Ada tugas itu ya dikerjain, bukan direncanain terus. Dan syukur alhamdulillah, setelah dijalani, selesai juga. Lulus ujian, soal ujian udah diserahkan, berkas anak-anak seleksi Pentaru juga sebagian besar udah dikirim. Agak lega gitu. Tuh, kan! Curhat lagi.

Okelah, kali ini isi postingannya berupa potongan beberapa cerita pendek. Lain waktu kalau ide lancar, bisa jadi cerpen utuh, malah jadi novel pun. Amiiiin!

##########################################################################

Bel masih berbunyi nyaring kala aku dan Reno telah melenggangkan kaki kami di koridor sekolah. Hari ini kami dipulangkan lebih awal karena ada peringatan badai di kota sebelah dari pemerintah setempat. Semua terlihat terburu-buru, kecuali aku dan Reno. Rumah kami jauh dari ancaman badai. Maka dari itu kami hanya berjalan santai.

Barisan loker telah terlihat di depan mata. Masih ada beberapa orang di sana. Mataku menangkap sesuatu yang tidak beres di sana. Ada cairan yang keluar dari salah satu loker. Itu lokerku! Aku segera berlari menghampiri dan membuka lokerku dengan tergesa. Sial! Lokerku penuh lumpur! Jaketku, baju olahragaku, beberapa buku catatan, semua berubah warna jadi cokelat. Sial! Aku tau siapa pelakunya.

"Lagi, Rik?" ujar Reno sambil menepuk bahuku.

"Yah, seperti yang kamu lihat." sahutku santai. Aku mengeluarkan satu per satu barangku dari loker.

"Apa ngga sebaiknya kita laporkan hal ini ke Pak Harto?" tanya Reno sambil menutup lokernya yang tepat berada di sebelah lokerku.

"Ga usah. Ntar urusannya jadi runyam. Ini ngga seberapa kok." kupamerkan senyum termanisku.

"Tapi Erik, ini udah keenam kalinya dia mengganggu isi lokermu." raut wajah Reno berubah kesal.

"Hei, jangan lupakan laci mejaku yang udah tiga kali diisi berbagai macam serangga, juga tasku yang berkali-kali disangkutkannya di pohon beringin di depan sekolah." Aku menarik kantong besar yang aku letakkan di atas lokerku.

"Trus kamu diem aja gitu?" tangan Reno mulai ikut sibuk memasukkan barang-barangku ke kantong besar itu.

Lagi-lagi aku tersenyum, "Kamu ngga liat aja gimana ekspresi dia waktu aku meniduri adik tersayangnya, Juli."

"Jadi ini semua karena hal itu?" Reno berhenti sejenak sembari menoleh ke arahku.

Aku tetap melanjutkan kegiatanku, "Tentu aja. Dan aku udah punya rencana yang lebih hebat dari itu," seringaiku. Reno bergidik melihatku.

*Reno POV*

Pagi ini aku sarapan seperti biasa, dengan Ayah, Ibu, dan Kalina. Aku sedang asyik mengunyah panekuk-ku ketika Ayah mengagetkan kami semua.

"Ren! Lihat ini! Bukankah ini temanmu?!" ujar Ayah sambil menyodorkan koran yang sedang Ia baca. Aku menyambutnya dan langsung terbelalak begitu membaca judul besar berita, 'Siswa SMA Tewas di Tangan Temannya Setelah Meniduri Ibu si Pelaku.'

######################################################################

Aku selesai menyobek-nyobek beberapa buku catatan Diana. Kemudian ku siramkan minyak tanah ke atasnya, dan langsung ku bakar habis kertas-kertas itu.

"Kenapa kamu melakukan semua ini, Ta?" tanya Alika di sebelahku. Iya, ini udah kelima kalinya aku mengganggu kehidupan Diana, saudara tiriku yang baru sebulan ini tinggal bersamaku, Ayah dan istri barunya. Ibu udah meninggal tujuh tahun silam, dan baru bulan lalu, Ayah menikah lagi dengan seorang janda beranak satu, Diana. Dia seumuran denganku. Bahkan kini kami satu sekolah meskipun beda kelas karena kami memilih jurusan yang berbeda.

"Biar dia tau rasa, Ka. Kamu nggak tau gimana rasanya jadi aku." sahutku menatap bengis kobaran api di depanku.

***

Aku membuka pintu dengan perlahan, berharap tidak ada seorangpun yang akan terbangun. Ini sudah lewat tengah malam. Aku sengaja pulang larut karena menghindari Diana. Ayah mengabariku bahwa ia dan Ibu tiriku harus pergi ke Semarang karena Bu De Mar sakit keras tiba-tiba. Berarti di rumah hanya ada Diana.

Pintu depan udah aku kunci kembali, lalu aku berjalan berjinjit ke arah tangga yang menuju ke lantai 2 di mana kamarku berada. Sebelum aku mencapai tangga, tiba-tiba lampu ruang tamu menyala, membuatku dapat melihat sosok Diana yang berdiri anggun di dekat sakelar sambil melihatku dengan tatapan lapar. Ada cambuk di tangan kanannya dan sebatang besi panjang berwarna hitam di tangan kirinya.

"Halo, saudara tiri, kenapa baru pulang jam segini?" tanyanya santai namun terdengar menakutkan di telingaku. Ia berjalan mendekat sambil sesekali menjilat cambuk di tangannya, "kamu nggak tau, ya, kalau cambukku udah kangen dengan kulit mulusmu?" ucapnya lagi dengan tatapan iblis. Aku hanya bisa berdiri mematung di hadapannya. Tubuhku terasa kaku. Dan sepertinya, malam ini akan sama seperti malam-malam sebelumnya. Aku berharap, aku mati malam ini.

Oke! Itu aja cuplikan cerpen untuk postingan kali ini. Kali aja bisa jadi bahan inspirasi kalian untuk membuat cerita bergenre thriller. Kalo Penulis, mah, ngga usah ditanya, sekali mulai nulis, langsung lancar ini tangan untuk ngetik cerita dengan genre thriller. Asyik aja rasanya, ahahahaha *ketawa iblis*

Kamu suka bikin cerita thriller juga? Mau kolaborasi? Monggo ngomong di kolom komentar!

Thursday, May 11, 2017

New Beceletsss Project #1: Merantau

            Langit baru berhenti menurunkan hujannya beberapa menit lalu, menjadi penyebab lembab dan dinginnya udara malam ini. Daun tanaman hias yang aku letakkan di balkon ini pun masih basah. Selain lembab dan dingin, hujan juga bertanggungjawab atas kesunyian ini. Mereka memilih bergelung dengan selimut lebih cepat, menyisakan aku sendirian di balkon lantai 12 di mana flatku berada.

            Gumpalan asap menemani kesunyianku, tentu saja itu aku yang mengepulkan. Tiga puntung sigaret tergeletak tak beraturan di atas wadah plastik yang sudah berlubang di beberapa bagian, saksi kemarahanku yang kulampiaskan pada puntung-puntung tak berdosa itu. Ini batang keempat, namun tak ada niatan untuk berhenti. Aku masih ingin membiarkan nikotin dan kawan-kawannya melegakan sedikit beban pikiranku malam ini.

            Ponselku bergetar, layarnya berkedip beberapa kali, menandakan satu pesan singkat masuk. Itu pasti dari Ayah. Ini pesan ke-73 yang dikirimkannya hari ini. Jangan lupa 54 panggilan yang sengaja tak ku respon sama sekali. Aku tau pasti apa yang ingin disampaikan si keparat itu. Keparat? Iya, Ayahku memang keparat. Tujuh tahun berlalu sejak Ayah bercerai dengan Ibuk. Dan setelahnya aku tak tau, tak mau tau lebih tepatnya, di mana keberadaannya. Sampai dua hari yang lalu, entah bagaimana caranya, dia kembali hadir dalam wujud puluhan panggilan dan pesan yang memuakkan, dia mengaku kalau telah ditipu oleh wanitanya, entah yang kelima atau keenam, aku tak ambil pusing. Dia memohon agar aku bersedia menampungnya. Aku menolak tentu saja. Siapa dia? Hanya pendonor sperma di rahim Ibuk. Selebihnya, dia bukan siapa-siapa.

            Ponselku bergetar lagi, kali ini agak lama, panggilan dari Mbak Nilam. Ku tekan tombol hijau, kemudian meletakkan si biru mungil ini di dekat telingaku.

            “Ya, Mbak, ada apa?”

            “Waalaikumusalam,” aku mendengus kesal mendengar sahutan di seberang sana, “Apa kabar, kamu, Ham?”

            “Baik, Mbak. Mbak dan yang lainnya gimana? Baik, kan?”

            “Alhamdulillah, kami semua sehat. Ham, ada yang mau Mbak tanya ke kamu…”

            “Apa itu, Mbak?”

            “Ayah ada ngubungin kamu?”

            Aku menghela napas, “Ada, Mbak. Puluhan kali. Aku sampai muak. HP-ku hampir mati ini karena ditelpon terus.”

            “Kamu angkat?”

            “Dua hari yang lalu. Soalnya Ayah pakai nomor baru. Ayah sempat ngomong juga sekitar dua menit. Tapi abis itu aku putus. Dia mau numpang di rumahku. Aku ya ogah, tho, Mbak.”

            “Lha, sama. Mbak sama Mas Aryo-mu juga bolak-balik ditelpon. Kami sampai harus matiin HP biar Ibuk nggak curiga.” Mbak Nilam agak berbisik.

            “Loh, Ibuk nggak tau?”

            “Nggak. Ih, buat apa dikasih tau. Kita kan udah sepakat untuk jauhin Ayah sama Ibuk. Lagian Ibuk sekarang udah seneng. Kamu aja yang nggak pulang-pulang. Kapan tho kamu balik? Kamu nggak mau liat Dimas? Keponakanmu ini kangen, lho. Si Anti juga udah bisa jalan sekarang.”

            “Mbak tau, kan, kenapa aku nggak mau pulang?!”

            “Iya, tapi masa’ sampai dua tahun, lho. Perasaan dulu dua bulan sekali kamu pulang.”

          “Liat entar, deh, Mbak. Aku bosen dijodoh-jodohin terus sama Ibuk. Aku bukannya nggak laku, tapi aku belum siap, Mbak. Aku belum bisa lupa sama Ratna.”
  
           “Oalah, perempuan sundal kaya dia kok kamu pikirin terus, tho? Yowes lah. Kamu baik-baik di situ. Inget rumah.”

           “Injih, Mbak. Mbak sama yang lainnya juga baik-baik di situ. Usahakan Ibuk jangan sampai tau kalau Ayah ngubungin kita.”

            “Iya, wassalamualaikum.”

            “Yaa…”

            Kuputuskan sambungan telepon kami. Pandanganku kembali terarah ke langit malam yang terlihat makin cerah. Satu per satu kelip bintang bermunculan. Kuisap lagi sigaretku yang tinggal separuh batang. Rasanya cukup untuk malam ini. Waktunya aku kembali ke peraduan.

            Aku masuk ke kamar dan menutup pintu kaca balkon. Ada seseorang di ranjangku. Dia sudah terlelap sejak sebelum hujan tadi. Tubuh mungilnya hampir tenggelam oleh selimut tebalku. Kusingkirkan beberapa anak rambut di dahinya, memberi kecupan di sana. Kusingkap sedikit selimut, kemudian masuk, memosisikan tubuhku di sebelahnya yang tidur membelakangiku. Tak lama kemudian, tubuhnya telah masuk ke dalam pelukanku. Baiklah, selamat malam dunia!

***

            Makan siang di tengah teriknya sang mentari memang bukan pilihan yang bagus, tapi kalau dengan berterik ria kamu bisa merasakan menjadi makhluk sosial, aku rasa itu sebanding. Seperti saat ini, beberapa bulir keringat menghiasi dahiku. Bukan hanya dahiku, Roni, Sinta, Sarah, dan Koko juga punya hiasan dahi yang sama tapi kami nggak kelihatan peduli dengan hal itu, sama sekali. Roni terlihat sibuk dengan mangkok baksonya yang masih mengepulkan uap panas. Sinta dan Koko sibuk dengan mi super pedas mereka. Sarah? Gadis anggun itu sedang berusaha menghabiskan porsi kedua makan siangnya, tadi nasi rames, sekarang gado-gado tanpa kol. Dia tetap anggun walaupun porsi makannya jumbo. Aku sendiri sudah selesai memindahkan seporsi batagor dan segelas jus jeruk ke dalam perut rataku.

            “Eh, kalian pada tau enggak, sih? Itu si Lia, istrinya Pak Broto, ketahuan selingkuh, loh!” Si Sinta buka suara dengan mulut masih berisi mi super pedasnya. Akibatnya sebagian isi mulutnya terhambur keluar.

            “Hush! Jangan asal ngomong, lho! Lagian itu makan beresin dulu. Liat itu mi kamu berserak di meja,” Roni menimpali. Yang ditimpali cuma mesem.

            “Kamu tau dari mana, Sin?” Si Koko malah kembali memanaskan kompor. Sinta sudah akan membuka suara, namun aku meletakkan jariku di bibir, tanda supaya Sinta diam. “Abisin dulu makanmu kalau mau ngomong, Sin.” Sinta mengangguk malu.

            Selesai makan, Sinta menjelaskan kronologi Pak Broto yang memergoki istrinya yang tengah tidur di flat salah satu karyawan kantor lain, Ilham. Mendengar nama Ilham, aku langsung tersentak. Apa mungkin Ilham yang dimaksud adalah Ilham Hardianto, Mas-ku?

            “Kamu kok kaget gitu, tho, Sal? Kamu kenal sama si Ilham?” tembak Sarah. Aku yang nggak menyangka akan ditanya seperti itu langsung tergagap, “Eh, eng… enggak, kok. Aku nggak kenal. Emang kepergok di mana?” tanyaku mengalihkan perhatian mereka dariku.

            “Oh, kemarin, di flat yang ada di jalan Kartini itu, lho. Tau kan? Jam 11 malam gitu lah …” Sinta melanjutkan penjelasannya. Aku udah nggak bisa lagi menyerap informasi apapun darinya. Hayalku melayang ke Mas-ku, Mas Ilham.

            Sebenarnya aku nggak mau pindah ke kota ini. Tapi semenjak Mas Ilham nggak pernah pulang, Ibuk menyuruhku untuk menyusul Mas Ilham kesini. Aku nggak punya pilihan selain menuruti kemauan Ibuk. Jadi aku transfer kuliah ke universitas negeri yang ada di kota ini. Beruntung jadwal kuliahku nggak begitu padat sehingga aku bisa menyambi dengan bekerja paruh waktu. Dan yang lebih beruntungnya lagi, kantor tempatku bekerja masih satu gedung dengan kantor Mas Ilham. Hanya saja Ibuk perpesan agar aku cukup mengawasi Mas Ilham dari jauh.

            Alasan Ibuk menyuruhku mengawasi Mas Ilham adalah karena Ibuk cemas dengan keadaan Mas Ilham. Sejak tiga tahun yang lalu, saat itu usia Mas Ilham 27 tahun, Ibuk mulai gencar menjodohkan Mas Ilham dengan kerabat Ibuk. Setiap Mas Ilham pulang, pasti ada saja wanita yang dikenalkan Ibuk kepadanya. Mungkin lama kelamaan Mas Ilham bosan juga. Setelah setahun usaha Ibuk menjodohkan Mas Ilham, mereka bertengkar hebat. Mas Ilham mengaku muak dengan usaha Ibuk, sedangkan Ibuk bersikeras kalau itu semua untuk kebaikan Mas Ilham. Sampai akhirnya Mas Ilham memilih pergi dan nggak pulang dua tahun belakangan.

            Ibuk cemas, takut kalau-kalau Mas Ilham nekad atau mengambil jalan lain. Tapi sejauh pengamatanku, Mas Ilham baik-baik saja. Dia terlihat beberapa kali menggandeng wanita cantik, sebagian besar merupakan istri orang. Aku tau tapi aku nggak bisa berbuat banyak. Semenjak Mas Ilham putus hubungan dengan Mbak Ratna yang kedapatan selingkuh dengan bosnya sendiri sekitar empat tahun lalu, Mas Ilham berubah. Mas-ku itu nggak lagi menghormati wanita selain Ibuk dan Mbak Nilam.

            Udah nggak terhitung wanita yang pernah mampir ke flatnya, tentu saja hal ini nggak sampai ke telinga Ibuk. Aku sengaja merahasiakannya. Aku nggak mau Ibuk sedih. Sudah cukup rasanya dua tahun Ibuk menderita setelah diceraikan Ayah tujuh tahun lalu. Semenjak saat itu, aku, Mas Aryo, Mbak Nilam, dan Mas Ilham sepakat untuk menyingkirkan Ayah dari kehidupan Ibuk. Dan syukur alhamdulillah sekarang Ibuk udah baik-baik aja. Tapi cerita Sinta barusan mau nggak mau menyentil mindaku.

            Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku udah tau gimana keseharian Mas Ilham di sini. Aku udah biasa liat dia bawa cewek ke kamar. Tapi nggak pernah sampai ketahuan pihak keluarganya. Ini kali pertama dan aku beneran cemas dengan keadaan Mas Ilham sekarang.

            Semua isi piring, mangkok, dan gelas tandas. Udah hampir jam dua juga. Kami memutuskan untuk menyudahi masa istirahat siang kami. Aku mengeluarkan dompetku, mengecek berapa sisa uang di dompetku. Tinggal dua lembar warna hijau. Tapi tiba-tiba Koko menahan tanganku. “Udah, kali ini aku yang bayar,” ujarnya sambil memasang ekspresi genit di wajahnya. Aku geli, sumpah. Langsung ku keluarkan selembar hijau dan menyerahkannya ke Sarah. “Nggak usah, Ko. Aku masih punya uang, kok.” Koko nggak menyahut, hanya mendengus, menunjukkan kekesalannya. Ini bukan kali pertama Koko mencoba menggodaku, dan sialnya dia bukan laki-laki pertama yang melakukannya. Di kampus, udah empat kali aku ditembak sama laki-laki, tiga orang senior dan satu orang junior. Aku geleng-geleng kepala kalau mengingatnya.

            Kami berjalan beriringan memasuki gedung. Aku berjalan paling belakang, di belakang Koko dan Roni yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Roni dan Koko berhenti mendadak, membuatku yang nggak terlalu konsentrasi menabrak punggung mereka.

            “Eh, itu si Ilham yang aku ceritain tadi,” Sinta berbisik. Aku mengikuti arah pandang mereka. Ternyata benar, Ilham yang dimaksud memang Mas Ilham. Dia terlihat berjalan dengan santainya ke arah lift. Tubuh jangkung kekarnya seperti magnet yang mampu menarik pandangan setiap orang di sekitarnya. Aku nggak heran, selain jangkung dan kekar, wajah khas pria Jawa dengan kulit kuning langsat, pasti mudah mengalihkan perhatian. Matanya teduh, memancarkan ketenangan saat mata itu menatap. Mata itulah yang menenangkanku selama ini, meringankan sedikit bebanku. Sebenarnya aku mewarisi sedikit banyak rupa Mas Ilham, hanya dalam versi yang lebih manis. Tubuhku cukup berisi, tapi nggak kekar. Tinggiku juga cuma 165 senti. Tapi kemudian aku tersadar. Aku langsung ingat pesan Ibuk, aku nggak boleh terlihat oleh Mas Ilham.

           “Ehm, aku lewat tangga aja, deh. Perutku kenyang banget ini. Takut gemuk.” Ujarku beralasan.

            “Gemuk? Plis, deh! Badan kamu itu isinya cuma tulang sama kentut, trus dibalut kulit. Nggak bakalan gemuk Cuma gara-gara makan batagor seuprit.” cerca Sinta. Aku hanya membalas dengan cengiran khasku. “Mau aku temenin?” Lagi, si Koko mencoba PDKT. “Nggak usah, aku sendirian aja. Kamu bareng mereka aja. Jagain si Sinta jangan sampai ngegosipin Mas Ilham di sebelah orangnya.” tolakku. Sinta melotot ganas tapi nggak ku gubris. Aku langsung melangkahkan kaki ku ke tangga darurat di pojok kanan lobi gedung ini.

            Aku sampai di lantai tiga, masih tiga lantai lagi, namun suara seseorang mendeham menghentikan langkahku. Mas Ilham. Dia berdiri bersandar di pintu darurat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya kanan dan kiri.

            “Mau sampai kapan kamu sembunyi dari Mas-mu, Dik?” Mas Ilham buka suara. Aku menjengit kaget. “Kamu pikir Mas nggak tau kamu ngikutin Mas terus hampir dua tahun ini? Siapa yang nyuruh kamu? Ibuk?” Aku mengangguk lemah. Mas Ilham tersenyum manis, senyum yang selalu ditujukan padaku setiap aku melakukan kesalahan. Dia merentangkan kedua lengannya, mengundangku untuk masuk ke dalam rengkuhannya. Aku menyambut. Kutenggelamkan wajahku di dada bidangnya. Tangisku pecah.

            “Aku kangen, Mas. Aku liat Mas hampir setiap hari, tapi nggak bisa mendekat. Ibuk nggak mau Mas ngerasa diawasi,” Mas Ilham mengelus lembut punggungku, kemudian beralih ke rambutku. Aku melerai pelukan kami. Mataku dan Mas Ilham langsung tertumbuk ke satu tempat, kemeja di bagian dada Mas Ilham yang kini basah oleh air mataku. Aku malu, sumpah. Udah umur segini masih nangis, pakai acara bikin basah kemeja orang lagi.

            “Udah, nggak usah nangis lagi. Mas juga kangen. Tapi gimana, ya, Mas tau pasti kalau Ibuk yang nyuruh kamu, makanya Mas nggak mau ngerusak rencana kalian itu. Cuma tadi sebelum Mas masuk ke lift, Mas liat kamu pasang muka sendu. Mas nggak tahan. Nggak tega ngeliat Adik kesayangan Mas ini sedih,” Mas Ilham menangkup wajahku dengan kedua tangan besarnya, ibu jarinya menghapus jejak air mata di kedua pipiku.

            “Hmm, itu. Tadi temen aku gosipin Mas. Itu bener?” Mas Ilham tersenyum lagi. Dengan lembut Mas Ilham menjelaskan semuanya. Aku sesekali mengangguk mengerti. Beberapa menit kemudian Mas Ilham mengakhiri ceritanya. Ternyata aku salah menilai Mas-ku.

            “Ya, udah, sekarang kamu balik, gih. Naik lift aja. Nanti sore, jam empat, Mas tunggu kamu di parkiran, ya?” Aku mengangguk. Mas Ilham mengacak rambutku perlahan kemudian mempersilakanku pergi. Aku memasuki bilik lift, hanya ada beberapa orang di dalam. Aku mengecek kondisi wajahku melalui refleksi di dinding bilik. Syukurlah nggak terlalu kentara kalau aku baru aja menangis. Begitu lift tiba di lantai enam, pintu lift terbuka dan aku keluar menuju kantorku.

***

            Suara ketukan di pintu membuatku terjaga. Ku lirik sekilas jam di atas nakas, 11. Baru satu jam aku terlelap. Siapa orang kurang kerjaan yang bertamu hampir tengah malam begini?! Ah! Ketukan sialan di pintu bukannya mereda malah menggila. Mau tak mau pintu harus ku buka, jika tidak, tetangga akan protes sesegera mungkin.

            Kusingkap selimutku sepelan mungkin, berusaha agar dia tak terbangun. Dengan sangat perlahan, aku melangkah ke arah pintu depan, siap-siap memaki si manusia tak tau diri yang mengganggu tidur malamku. Telah kukumpulkan segala macam makian di kepala, siap untuk keluar sesaat lagi. Begitu pintu terbuka, wajah seram Pak Broto yang muncul di sana. Hm, harusnya sudah kuduga dia sebelumnya. Aku tak jadi memuntahkan sumpah serapahku.

            Mata Pak Broto merah, melotot seakan hampir keluar, badannya bergetar, menahan amarah. Tubuh kerdilnya yang hanya setinggi dadaku menegang. Aku hanya tersenyum melihat sosoknya. Ngomong-ngomong, Pak Broto ini adalah bos di salah satu kantor di gedung yang sama dengan kantorku, sekaligus suami dari si mungil yang sedang terlelap di ranjangku.

            “Ada yang bisa saya bantu, Pak Broto?” tanyaku sembari memberikan senyum termanisku.

            “Nggak usah sok manis! Aku tau Lia di sini!” suara Pak Broto menggelegar.

      “Oh, Bapak cari Lia, tho. Dia ada di kamar saya. Lagi tidur, mungkin kelelahan,” aku menggantung, kutundukkan tubuhku agar bibirku mendekat ke telinga paruh baya ini, “setelah tadi saya bantu ‘meringankan’ bebannya,” bisikku. Mendengar itu, kontan satu tinju melayang ke arah wajahku, tapi dengan mudah ku tepis. Kesal karena tinjunya tak jadi menyentuhku, Pak Broto mendorong tubuhku hingga terhuyung ke belakang. “Kamarnya itu, Pak, yang warna biru gelap,” ujarku sambil menunjuk ke arah pintu kamarku. Pak Broto mendengus, dengan sengaja menghentakkan kakinya keras ia berjalan ke arah pintu. Pintu kamar dibukanya, menampilkan Lia yang tidur nyenyak di balik selimut tebalku.

            “Dasar istri kurang ajar!” teriak Pak Broto begitu tiba di sisi ranjang. Lia, sang istri, terkejut mendengar teriakan suaminya. Tapi bukannya bertingkah seperti maling yang ketahuan mencuri, Lia malah terlihat seperti orang yang memergoki maling yang sedang mencuri.

            “Oh, jadi Mas udah datang? Saya tunggu dari tadi sampai ketiduran di sini. Udah selesai ‘bobo enak’-nya sama si Tiara? Atau hari ini giliran Sandra? Atau Jihan?” cecar Lia. Pak Broto kaget, tubuhnya agak mundur ke belakang.

            “Apa maksud kamu?!” teriaknya tak mau kalah.

            “Udah, lah, Mas, ga usah pura-pura. Aku udah tau gimana tingkahmu di luar. Aku liat sendiri Mas check-in di hotel bareng Tiara. Ngapain coba? Belajar ngaji? Atau main monopoli? Di hotel gitu? Apa aku kurang cantik, Mas?” Lia mulai bergetar. Air matanya menggenang, bersiap untuk jatuh. Aku bosan dengan drama keluarga seperti ini. Aku memutuskan kembali ke ruang tamu, menunggu mereka selesai bertengkar. Beberapa menit kemudian mereka keluar. Ku lihat Lia tersenyum manis, malah Pak Broto yang terlihat seperti baru menangis. Pak Broto berkali-kali meminta maaf, sedangkan Lia berterimakasih berulang-ulang. Setelahnya mereka pergi dari flatku. Keluarga kesekian yang aku selamatkan dari perceraian. Suasana kembali sepi. Lebih baik aku melanjutkan tidurku yang sempat terganggu tadi. Saat akan menutup pintu, ku lihat beberapa orang tetangga berbisik-bisik di depan pintu kamar mereka. Ah, pasti besok ini jadi gosip panas. Biarlah mereka berkata apa. Yang penting sekarang aku mau mengistirahatkan tubuhku.

***

            Aku berjalan tergesa-gesa ke arah lift. Ini udah jam setengah lima. Aku terlambat setengah jam dari waktu yang udah kami sepekati. Bukan sepenuhnya salahku. Tadi sebelum aku pulang, Koko lagi-lagi menggodaku, kali ini malah parah, dia mencoba memelukku dari belakang. Langsung aku dorong. Sayangnya dia menyenggol gelas berisi kopi milik Sutan di atas meja kerjanya. Gelas jatuh dan pecah berhamburan. Terpaksa aku bertanggungjawab membersihkannya. Koko sendiri bertanggungjawab dengan mengganti gelas Sutan itu karena katanya itu gelas kesayangannya. Untung aja Bu Dona, sekretaris Bos Bian, Bosku, nggak liat insiden ini. Kalau dia liat, pasti udah diperkarakan.

            Aku sampai di parkiran lantai dasar. Mas Ilham udah menunggu sambil merokok di sisi mobilnya. Begitu melihatku, dia berjalan ke arah tempat sampah yang berada nggak jauh dari tempat dia berdiri dan membuang batang rokok yang kulihat masih cukup panjang. Mungkin itu batang keduanya. Mas Ilham memang nggak mau merokok di dekatku karena Mas-ku itu tau aku benci rokok.

            “Kok lama, tho, Dik?” tanyanya begitu aku tiba di hadapannya.

            “Punten, Mas. Ada masalah tadi di kantor,” sahut pelan.

        “Yowes. Yuk lah kita langsung berangkat.” Mas Ilham membukakan pintu mobil untukku, kemudian berjalan memutar ke sisi kemudi mobil.

            “Mau kemana kita, Mas?” tanyaku begitu kami berdua udah di dalam. “Ikut aja. Mas nggak akan bawa kamu ke tempat yang macem-macem kok.” Aku mengangguk. Setelahnya kebisuan menguasai kami. Nggak sepenuhnya bisu, karena lagu Sego Liwet yang dikumandangkan indah oleh Mbakyu Waljinah, memenuhi kekosongan kami. Selanjutnya Mbakyu Waljinah dan Almarhum Gesang dengan lagu Pandan Wanginya yang menggelitik telingaku. Suasana tenang, ditemani tembang keroncong seperti ini melemparkanku ke memori bertahun-tahun silam, saat Ayah dan Ibuk masih baik-baik aja. Saat riangnya aku bercanda dengan mereka di atas becak dayung menyusuri jalanan kota setiap sabtu malam. Tanpa sadar mobil telah berhenti di pelataran kost-ku.

“Ngapain ke sini, Mas?” tanyaku.

“Kamu masuk sana, ambil barang-barangmu. Mulai hari ini kamu tinggal sama Mas aja,” Mas Ilhal menyahut santai.

“Tapi, Mas… Ibuk…”

“Udah, tenang aja. Kamu nggak usah bilang-bilang kalau kamu tinggal sama Mas. Udah, buruan sana. Keburu gelap ini.” Aku menurut, bergegas keluar dari mobil kemudian setengah berlari menuju ke kamarku di lantai dua. Beruntung aku mendapat indekost yang udah menyediakan perabotan di dalamnya. Jadi barang bawaanku nggak terlalu banyak. Hanya satu koper berukuran sedang berisi pakaian dan akuarium kecil berisi ikan mas koki yang kunamai Paijo, nama guru favoritku waktu SMP dulu.


Koper udah tersimpan rapi di bagasi, Paijo juga udah anteng di dalam akuarium bola di pangkuanku. Mas Ilham mulai mengemudikan mobilnya. Jarak dari kost-ku ke flat milik Mas Ilham nggak begitu jauh. Sekitar 20 menit, itupun kalau jalanan macet. Dan lagi-lagi, keheningan kembali menguasai kami, kali ini tanpa alunan musik keroncong. Karena bosan, kunyalakan lagi pemutar musik, kali ini Mas Didi Kempot yang bersuara, dan kami berdua menikmatinya dalam diam.

Monday, April 24, 2017

Tips Mengelola Keuangan Ala Gue!


Ohayou, minna!

Masih dinihari ini, tapi demi mencicil hutang postingan, rela-relain deh, ya.

Kali ini kita bakalan bahas tentang bagaimana Penulis mengelola uang, Aunty Betha ini yang kasih topik. Maklum aja, anak kost kalau ga pinter-pinter mengelola uang, pailit yang datang. Penasaran gimana cara Penulis mengelola uangnya yang ga seberapa?

Kagak!

Bodo amat, mau Lu penasaran atau kagak, ini tulisan bakalan Gue lanjut! Wekk!

Cara Mengatur Keuangan Agar Hidup Aman Damai Sentosa di Perantauan

http://infoloka.com/wp-content/uploads/2015/09/Tips-Mengelola-Keuangan-Bisnis-Rumahan-2.jpg
Bagi sebagian besar mahasiswa atau yang udah alumni tapi masih nge-kost kaya Penulis, wajib rasanya mengatur pengeluaran supaya ga dapat cerita 'GA MAKAN GEGARA GA PUNYA UANG.' Ya ampun, amit-amit, deh, jangan sampai kejadian. Alhamdulillah udah hampir lima tahun nge-kost, ga pernah ngalamin hal itu. Berada di keadaan yang mencekik pernah, tapi ga sampai ga makan lah. Pernah melewatkan satu waktu makan dalam sehari, tapi bukan karena ga punya uang.

Kok bisa Elu selamet? Lu pelit ya?

Daripada yang baca pada suudzhon, mending langsung Penulis kasih aja, deh, tipsnya.

1. Bagi-bagi

Apaan yang Elu bagi?

https://muhfajrii.files.wordpress.com/2015/01/yang-sering-terjadi-di-akhir-bulan1.jpg
Tips pertama ini tentang pembagian. Apa yang dibagi? Tentu aja uang.

Nah, pasti sebagian dari kamu ada yang dapat kiriman dari ortu sebulan sekali, mungkin sebagian besar. Kadang Penulis juga gitu. Apa dampak negatif dari kiriman bulanan ini? Dampak negatifnya adalah kamu akan merasa seperti pegawai atau karyawan yang akan merasakan yang namanya tanggal muda dan tanggal tua. Tanggal muda itu awal bulan, saat di mana keuangan lagi dalam keadaan sangat stabil, mata jadi jelalatan pengen beli ini itu, lidah susah tahan selera untuk ga nyicip sana sini yang mengakibatkan pengeluaran membludak di awal bulan. Dan sialnya terkadang pengeluaran di awal bulan itu untuk hal-hal yang ga begitu penting. Nongkrong di kafe mewah yang harga secangkir minumannya aja bisa sampai puluhan ribu, nonton film ga bermutu di bioskop, teriak-teriak ga jelas di tempat karaoke, dan sebagainya. Di tanggal muda, kebanyakan anak kost akan merasa sangat kaya, terus lupa kalau masih ada tiga minggu lagi yang harus dijalani sebelum dapat kiriman berikutnya.

http://media.infospesial.net/image/p/2016/02/9f5e2-meme-ngenes-derita-anak-kos-30.jpg
Memasuki pertengahan bulan, barulah si anak kost ini sadar kalau minggu pertama bulan ini doi terlalu boros. Doi mulai mengecek satu per satu bon, kemudian meratapi nasibnya dua minggu mendatang. Pertengahan bulan adalah masa awal penderitaan. Yang sebelumnya bisa makan minum di kafe, di pertengahan bulan harus rela cuma makan di warung nasi padang pinggir jalan.

Keadaan di tanggal tua lebih mengenaskan lagi. Ada yang harus rela cuma makan mi instan tiga kali sehari, ada yang cuma makan nasi plus kuah sayur biar ada rasanya, bahkan ada yang sampai ga makan sama sekali.

Karena melihat fenomena inilah akhirnya Penulis menerapkan sistem bagi-bagi. Jadi uang kiriman yang datang di awal bulan itu Penulis bagi menjadi sejumlah minggu pada bulan itu. Kalau sebulan ada empat minggu, ya Penulis bagi empat, kalau ada lima minggu, ya Penulis bagi lima. Setelah dibagi, bagian minggu ini Penulis pegang, sedangkan 3/4 bagian lagi Penulis simpan di rekening Bank. Setiap hari minggu atau senin Penulis akan ke ATM untuk menarik uang sejumlah 1/4 bagian uang bulanan. Dengan cara ini, Penulis ga akan merasakan yang namanya tanggal tua. Paling parah juga Penulis jadi kere di akhir pekan. Cara ini juga membuat Penulis bisa menahan selera untuk membeli barang yang ga perlu, karena uang di tangan ga besar jumlahnya.

2. Bagi-bagi-bagi

Loh, tapi di poin pertama udah ada, ini apa lagi?

Kalau yang pertama, kan sistem bagi-bagi. Kalau sistem yang kedua ini bagi-bagi-bagi. Ada tiga 'bagi'-nya.

Bedanya apa?

Sebenarnya ini langkah lanjutan dari sistem yang pertama. Jadi kalau yang pertama itu uang bulanan dibagi sejumlah minggu yang ada, di poin kedua ini, uang yang udah dibagi di poin pertama, dibagi lagi menurut kebutuhan. Jadi Penulis akan memikirkan kebutuhan pokok selama seminggu, misalnya makan dan BBM. Nah, uang yang akan dialokasikan ke dua kebutuhan ini disisihkan terlebih dahulu. Sisanya itulah yang bisa dipakai untuk jajan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang ga begitu penting.

Kalau dalam sepekan itu uang ga habis, itu uang bakalan Penulis simpan, buat jaga-jaga seandainya ada keperluan mendadak di minggu berikutnya. Kalau uangnya kurang, ya terpaksa ambil dari tabungan, tapi kalau udah ambil dari tabungan, Penulis akan bener-bener hemat, itu uang cuma buat beli makan, ga ada cerita jajan. Kalau kurang juga, barulah merengek ke orang tua, hehehe ...
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjElDeedHqa64tpATQa8mnVTb7qmi0mxdoSUkHYahnXx1JsFWkAPmP7q8vT27OJ12qJ5YsKXIk3mVYdQsMGrsijVvuBzx1jpDdIA_qdBat_Q71creCmPcOoJHYAhL6S_XrctJqGBEb4HpL3/s1600/Wajib-ditiRU-Ini-Cara-orang-kaya-mengatur-keuangannya-agar-terus-bertambah.jpg

Udah, dua poin aja untuk topik kali ini. Dua poin ini aja belum tentu bisa dijalankan dengan baik. Karena yang namanya manusia pasti ada khilafnya.

Oke, sampai di sini aja. Kamu punya tips yang lebih keren dari punya Penulis? Ya, monggo, kasih tau pembaca yang lain lewat kolom komentar.

Sunday, April 23, 2017

Tips Jitu Melupakan Mantan dan Semua Kenangan yang Telah Berlalu


Hai! Hai!

Penulis sedang dalam proses melunasi hutang-hutang postingan Penulis yang udah 5 dan akan terus bertambah kalau Penulis ga mencicilnya.

Kali ini Penulis mau cerita-cerita tentang mantan. Ini gara-gara si Amru. Ga ngerti kali lah Penulis sama topik kali ini. Bukan karena Penulis ga punya mantan, tapi karena Penulis bingung. Tapi berhubung ini tantangan, dijabani juga deh.

Cara Melupakan Mantan Ala Penulis

Beberapa orang akan menghindar saat ditanya tentang mantannya, entah itu karena punya pengalaman ga enak atau karena menghargai pacarnya yang sekarang. Tapi yang pasti, topik ini merupakan salah satu topik yang ga menyenangkan. Ada yang tiba-tiba jadi baper, ada juga yang malah ketawa-ketawa ga jelas (ini salah satu ciri orang yang kurang ajar ke mantannya) (kaya Elu kagak aja, Nyingnying!).

Tapi apapun itu, bagaimanapun itu, yang lalu tetaplah lalu. Penulis ga mau bilang kalau itu ga bisa diulang, Penulis bukan Tuhan. Mungkin bisa diulang, namun rasanya ga akan sama. Makanan yang diangetin sama makanan yang baru matang juga rasanya beda meskipun sama-sama hangat. Ya udah deh, kita langsung masuk ke topik aja!


1. Amnesia

https://manfaat.co/wp-content/uploads/2016/03/Mudah-lupa.jpg
Cara pertama ini cara yang paling umum. Kenapa umum? Ini menurut pengalaman Penulis nonton sinetron jaman awal 2000-an. Hampir di semua sinetron yang Penulis tonton punya scene di mana salah satu tokohnya kena amnesia, entah itu gegara jatuh ke sungai terus kejedot batu, atau kecelakan sampai koma berminggu-minggu. Pokoknya si tokoh itu jadi ga inget apa-apa lagi, bahkan dirinya sendiri. Nah, lho, jadi gampang kan melupakan si mantan. Boro-boro mantan, nama sendiri aja ga ingat.

Kamu mau coba? Gampang. Jedotin aja kepala kamu ke tembok langsung. Ga usah ada pelapis kain atau busa segala. Yang ada malah sakit doang, amnesianya kagak. Atau kalau cara itu susah, minta tolong aja sama salah satu temen kamu, atau bisa juga mantan kamu sendiri untuk mukul kepala belakang kamu pakai balok kayu. Abis dipukul, kamu bisa langsung dites, berhasil engga kamu amnesia.

2. Love Poison

http://vignette3.wikia.nocookie.net/harrypotter/images/c/c1/Love_Potion_design_for_T-Shirt.jpg/revision/latest?cb=20091220170731
Artinya ramuan cinta. Di film Harry Potter ke-enam, Harry Potter and The Half-Blood Prince, ada adegan di mana si Ron kena ramuan cinta ini. Sebenarnya sih si Romilda ini mau kasih ramuan cinta ke Harry yang dimasukkan ke kue coklat. Berhubung Ron rakus, jadi itu kue diabisin sama doi. Akibatnya, si Ron jadi kepikiran si Romilda terus! Padahal si Ron belum pernah ketemu sama si Romilda, lho.

Nah, buat kamu yang mau ngelupain mantan, kamu bisa coba cara ini. Suruh aja orang yang naksir ke kamu untuk bikin ramuan cinta ini terus kamu minum. Dijamin kamu bakalan tergila-gila ke doi. Tapi jangan pernah minum penawar ramuan ini, ya. Ntar kamu jadi bego!

3. Memory Charm

https://i.ytimg.com/vi/VQxcaq6vXzs/maxresdefault.jpg
Masih dari film Harry Potter, tapi kali ini bukan ramu-ramuan. Sekarang ini kita cerita tentang mantra. Memory charm atau dikenal juga dengan forgetfulness charm itu mantra yang bisa bikin orang yang kena mantra ini jadi kehilangan memori alias ingatannya. Mantra yang diucapkan adalah obliviate. Pertama kali Penulis liat mantra ini dipakai itu di film Harry Potter yang ke-tujuh, Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1. Si Mbak Hermione yang pakai mantra ini. Doi menggunakan mantra ini untuk menghapus ingatan orang tuanya supaya ga ingat sama Mbak Her lagi. Uuuh cyediiiiiiiih!!!!!

Tuh, orang tua aja bisa dihapus ingatan tentang anaknya. Apalagi ingatan kamu tentang mantan kamu itu?! Sono, cari Mbak Her biar kamu di-obliviate. Mbak Her ini salah satu penyihir terhebat di jamannya, loh! Jadi kamu ga usah ragu sama doi. Sebenernya ada juga, sih, Mbak Her yang jadi member BC, tapi bukan Hermione, tapi Hera, ehehehe...

Nah, tiga cara di atas merupakan tips jitu yang bisa kamu coba untuk ngeluapain mantan kamu. Ngawur, ya? Ya emang ngawur! Apa poin penting dari seluruh postingan ngawur ini? Intinya adalah kamu ga bakalan bisa ngelupain orang yang pernah jadi bagian dari hidup kamu. Mereka akan tetap punya tempat di salah satu sudut memori di otak kamu. Ga perlu susah-susah ngelupain mereka. Yang perlu kamu lakukan cuma berdamai dengan diri kamu sendiri. Iya, ke diri kamu sendiri. Saat kamu masih belum bisa move on dari mantan, yang salah bukan mantan kamu. Mau doi nangkring terus di depan kamu, atau doi menghilang di belantara, kalau kamunya ga berdamai dengan dirimu sendiri, kamu ga bakalan bisa move on dari doi. Jadi kalau kamu belum bisa move on, itu salah kamu. Pacaran pun cuma jadi pelarian. Ayok lah damai kita!

KAU GAK SOR SAMA POSTINGAN INI?! JANGAN CAKAP DI BELAKANG AJA KAU BERANINYA! KOMENTAR KALOK KAU BERANI! TANDING KITA! KAU PIKIR AKU BERANI?! SELO KAU!

Tentang Moody

Halo pembaca kece! Di postingan kali ini, aku ditantang sama Kak Rina untuk menceritakan tentang tanggapanku terhadap seseorang yang mo...