Wednesday, October 25, 2017

Apa Ketakutan Terbesarmu?

Halo Pembaca Kece!

Postingan kali ini masih akan tetap membahas tentang topik-topik yang berkaitan dengan Bloggers' Challenge. Topik kali ini yang mengajukan Kak Rina yang juga member baru ABC. Uuuuuh rame banget BC sekarang! Oke, jadi Kak Rina pengen para ABC menceritakan tentang ketakutan terbesar kami dalam hidup. Nah, lho! Kak Rina ini baru datang langsung nagih cerita tentang ketakutan. Ngga perlu berpanjang lebar, aku kasih tau aja, ya.

Ketakutan Terbesarku

Jika orang lain ditanya tentang apa ketakutan terbesarnya, beberapa mungkin akan menjawab kematian, kegelapan, hantu, atau hewan mengerikan. Maklum, dong, setiap orang kan punya ketakutannya sendiri. Sama halnya denganku. Jika ada orang yang bertanya kepadaku tentang hal yang paling aku takutkan, maka aku akan menjawab, berkomitmen. Berkomitmen seperti apa? Berkomitmen yang aku maksud adalah komitmen yang berhubungan tentang asmara, percintaan, pernikahan, dan sejenisnya.

Cincin
Iya, aku takut menjalin hubungan yang serius dengan orang lain. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini. Pertama, pengalaman yang kurang menyenangkan. Dulu aku pernah ditipu oleh teman sendiri. Dia menyapaku dengan akun palsu demi membongkar rahasiaku, kemudian menjadikan hal tersebut senjata untuk menyerangku. Ada sesuatu yang robek setelah itu, kepercayaan. Aku menjadi selektif dalam memilih teman, bahkan dalam hal menerima permintaan pertemanan di media sosial daring pun aku perlu berpikir beberapa kali. Kadang jika orang tersebut asing untukku, aku akan mengabaikan permintaan pertemanan itu. Jadi jangankan untuk menjalin asmara, untuk membuka diri kepada orang baru aja itu sulit.

Penyebab kedua lagi-lagi pengalaman. Di beberapa hubungan asmaraku yang sebelumnya, aku hampir selalu berperan sebagai tokoh jahatnya. Aku yang menjadi sang heart breaker, pihak yang melukai. Kesannya akulah si antagonis. Engga kesannya sih, emang jahat. Nah, sayangnya, aku sadar kalau jahat setelah melakukan kesalahan. Aku ngga akan sadar kalau aku jahat waktu aku melakukannya. Tunggu ada yang sakit dulu baru sadar. Imbasnya adalah aku takut untuk membuat hubungan baru dengan orang lain karena aku takut menyakiti lebih banyak orang.

Alasan ketiga, aku takut gagal. Semakin tinggi umur, hubungan asmara akan semakin serius, ngga lagi hanya antara dua orang, tapi dua keluarga, bahkan lebih luas lagi, seluruh kenalan. Otomatis jika ada kegagalan dalam, katakanlah pernikahan, efek buruk dari kegagalan itu tidak hanya menimpa si pasangan, namun juga keluarga dan orang di sekitarnya.

Nah, itu dia ketakutan terbesarku. Ada imbuhan ter- bukan berarti ini ketakutan satu-satunya yang porsinya paling besar. Ada ketakutan lain, tapi mungkin ini yang lebih terasa saat ini. Oke, Kak Rina, terima kasih atas topik cetarnya.

Kamu punya ketakutan yang sama denganku? Atau ketakutan kamu lebih serius? Cerita di kolom komentar yaaaaaa!

Monday, October 16, 2017

Hal Yang Membuatku Terkesan

Halo pembaca yang kece!
Lagi-lagi di postingan BC, aku harus cerita hal yang berkaitan dengan hal-hal berbau pribadi. Ini topik dari si Dwita, tentang hal yang membuatmu terkesan/tertarik dengan seseorang. Nah, lho, aku langsung mikir, apa ya yang bisa bikin aku terkesan/tertarik? Ternyata ada beberapa hal, tapi ngga aku tulis berurutan dari yang paling bikin terkesan/tertarik sampai yang paling bawah. Ini aku tulis sesuai dengan hal apa yang muncul di kepalaku. Oke, let’s check them out!


Hal Yang Membuatku Terkesan/Tertarik


A Non-native Speaker with Good Pronunciation

Aku pernah cerita tentang latar belakang pendidikanku? Belum pernah ya? Oke, deh, ngga masalah. Aku lulusan universitas negeri di Kota Medan dari jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Tentu aja aku jadi familiar dengan seluk beluk bahasa Inggris, hanya familiar lho, ya, bukan paham. Salah satu aspek yang ada di dalam bahasa itu adalah pelafalan atau pronunciation. Nah, pelafalan ini dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya aksen daerah yang kadang membuat pelafalan bahasa Inggris jadi buruk. Di Indonesia sendiri, jarang banget aku ketemu non-native speaker (bukan penutur asli bahasa Inggris) dengan pronunciation yang bagus, ngga mesti British, American style pun jadi. Maka dari itu, setiap ketemu dengan non-native speaker with good pronunciation, aku akan langsung menoleh ke sumber suara, terus memperhatikan sambil terkagum-kagum.

Seingatku, ada dua kali aku merasa benar-benar tertarik karena pronunciation seseorang. Pertama, waktu aku berkunjung ke Universiti Utara Malaysia 2013 silam, ada pertandingan debat antara mahasiswa setempat dengan mahasiswa almamaterku. Jadi saat pertandingan, ada satu peserta dari UUM, cowok, yang pronunciation-nya lemah lembut, jelas, dan do’i pakai British style! Itu aku serius banget dengerin do’i ngomong sampai selesai. Saking seriusnya, aku ngga peduli dengan topik apa yang do’i bahas. Pronunciation-nya bener-bener melenakan telingaku.

Li Wenlin a.k.a. Cemara
Kedua, waktu aku kuliah magister ini. Ada temenku yang asalnya dari Tiongkok atau China (baca: chaina. cina punya arti yang buruk dalam bahasa Mandarin), cewek. Kami beberapa kali terlibat diskusi, dengan bahasa Indonesia tentu aja. Tapi ada kalanya kami menggunakan bahasa Inggris jika do’i ngga paham dengan apa yang aku maksud. Nah, otomatis do’i membalas dengan bahasa Inggris juga. Saat itulah aku tau kalau pronunciation-nya bagus, American style dengan sedikit sentuhan aksen Mandarin. Rasanya pengen denger do’i ngomong pakai bahasa Inggris terus, cuma masalahnya, do’i kesulitan memahami pronunciation-ku yang buruk, hehehe…

Mereka Yang Membaca Al-qur’an

Namanya juga orang Islam, ngga heran dong kalau suka ngeliat dan ngedenger orang yang lagi baca Al-qur’an, apalagi kalau itu cowok. Yaaaaaah, walaupun aku sering heboh sok-sok terbakar kaya setan tiap dengar orang baca Al-qur’an, aslinya aku seneng, kok.

Jadi dulu waktu semester 7, ada yang namanya PPL (Program Pengalaman Lapangan), semacam praktik mengajar di sekolah yang berlangsung selama 3 bulan. Mahasiswa dari beberapa jurusan dikumpulkan di satu sekolah. Di tempat aku praktik, ada 15 orang, terdiri dari 5 mahasiswa dan 10 mahasiswi. Tempat tinggal kami terpisah tentu aja. Nah, jadi, ada salah satu cowok bertampang agak sangar yang rajin banget baca Al-qur’an. Hampir setiap selesai sholat wajib, do’i mesti baca Al-qur’an, ngga banyak, tapi rutin. Itu aku ngeliatnya asli kagum banget. Hari gini, lho masih ada cowok, dengan tampang yang agak sangar begitu, baca Al-qur’an dengan teratur!

Membaca Al-qur'an
www.youtube.com
Dan memang rejeki si kawan bisa aku bilang bagus. Di saat aku masih berjibaku dengan jurnal, buku, teori A sampai Z demi skripsweet yang manisnya ngalahin es krim Walls, do’i dan pacarnya (sekarang udah jadi istrinya, dan fyi, itu istrinya juga temen satu tempat PPL dengan kami) memutuskan untuk bertunangan, yang dilanjutkan dengan pernikahan beberapa bulan kemudian, dan mungkin sebentar lagi, jagoan mereka akan segera lahir ke dunia. Mulus banget kaya paha personel f(x), salah satu girlband Korea didikan SM Entertainment, meskipun aku belum pernah pegang sih.

Supir Angkot yang Tertib Lalu Lintas

Buat yang tinggal di Kota Medan, pasti ngerti banget gimana keadaan lalu lintasnya yang luar biasa. Dan salah satu pihak yang bertanggung jawab atas keadaan kacau itu adalah supir angkot, selain pengguna mobil pribadi, tentu aja. Jadi, di Medan itu, aturan perlalulintasan itu gampang banget dilanggar oleh supir angkot. Mereka akan dengan seenaknya menaikturunkan penumpang, ngga peduli walau di situ bukan tempat yang semestinya. Selain itu, supir angkor ini juga kapasitas sabarnya dikit banget, mungkin ngga nyampe 256kb. Makanya ngga usah heran kalau liat angkot yang menerobos lampu merah.

Penumpang Naik Angkot di Tengah Jalan
www.medanbisnisdaily.com
Dengan keadaan yang seperti itu, tentu akan menjadi hal yang mengagumkan untuk bisa melihat supir angkot yang tertib lalu lintas. Ngga semua kok supir angkot yang nyeleneh. Masih ada juga supir angkot yang patuh peraturan, tapi jarang. Makanya kalau aku liat supir angkot yang tertib, dalam hati aku akan memuji.

Aku rasa tiga poin ini cukup untuk menjawab tantangan dari si Dwita. Udah, ya, Ta. Cukup-cukup bahas tentang hal pribadi. Untung aku cukup pintar untuk ngga membawa topik ini ke ranah yang lebih serius.


Gimana menurut kamu? Ada poin yang sama? Atau poin punya kamu lebih keren? Jangan baca doang, dong. Tinggalkan jejak di kolom komentar.

Monday, October 9, 2017

Bagaimana Cara Minum yang Baik?

 Halo pembaca yang kece!
Aku balik lagi dengan tulisan yang masih terkait dengan proyek Bloggers’ Challenge. Topiknya tentang cara minum yang baik, dari si Robby yang juga member baru BC. Member baru terus ya? Iya, dalam sebulan ini, BC menerima 4 member baru. Uuuuuuuuuh! Keren!
Balik lagi ke topik, aku ingatkan sebelumnya, yang aku tulis di dalam postingan kali ini merupakan hasil dari membaca berbagai sumber, bukan riset pribadi, jadi aku ngga sepenuhnya bertanggung jawab tentang kebenarannya. Baiklah, ayo kita bahas!

Ketentuan Cara Minun yang Baik dan Benar

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa, manusia tentu aja membutuhkan berbagai hal untuk menunjang kehidupannya, salah satunya adalah kebutuhan akan air. Air dan tubuh manusia itu adalah dua hal yang ngga bisa dipisahkan. Jika terpisah, ya meninggal. Uuuuuh serem! Oleh karena itu, tubuh manusia perlu asupan air. Air yang aku maksud di sini adalah air bening atau biasanya disebut air putih, bukan susu, kopi, atau air rasa-rasa. Cuma air bening.

Minum air
www.deherba.com
Nah, ketentuan pertama yang harus kamu ketahui adalah tentang kuantitas atau jumlah air yang harus kamu minum per harinya. Dari jaman Arif kecil sampai sekarang, udah banyak artikel yang menyebutkan tentang seperapa banyak air yang harus diminum manusia setiap harinya, semuanya sama, yakni dua liter yang kalau dikonversikan ke dalam hitungan gelas itu setara dengan 8 gelas. Tapi ini adalah jumlah umum.

Aku mengutip dari www.gejalapenyakit.org, ada beberapa variabel yang bisa mempengaruhi jumlah air yang harus kamu minum. Pertama adalah kegiatan kamu. Makin berat kegiatan harianmu, semakin banyak pula air yang harus kamu minum. Variabel kedua adalah usia. Semakin bertambah usia, kebutuhan air akan semakin berkurang. Ini karena ginjal pada individu di usia lanjut tidak dapat bekerja semaksimal mereka yang berusia muda. Kapasitas hal ini berpengaruh pada kapasitas air yang mampu dimanfaatkan. Jika air yang masuk terlalu banyak, darah akan mengencer yang kemudian membuat jantung memompa lebih cepat. Akibatnya adalah cairan di dalam tubuh akan menumpuk dan menyebabkan pembengkakan sel.

Ketentuan kedua adalah waktu minumnya. Iya, jumlah 8 gelas itu ngga serta merta membuat kamu bebas minum kapan aja. Ada aturannya. Kamu ngga boleh sembarangan minum 2 liter air di pagi hari, kemudian seharian kamu ngga ada minum sama sekali. Ini keliru.

Waktu minum yang baik menurutku adalah sebagai berikut: 1 gelas setelah bangun dari tidur untuk mengganti cairan tubuh yang hilang selama tidur; 1 gelas setengah jam sebelum makan untuk memberikan efek kenyang sehingga kita tidak makan terlalu banyak; 1 gelas 5 menit setelah makan untuk membantu mempermudah pencernaan makanan; terakhir, 1 gelas sebelum tidur untuk bekal selama kita tidur.

8 Gelas sehari
www.riaucitizen.com
Ketentuan ketiga adalah tentang cara minum. Nah, terkait hal ini, aku mengutip cara sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad, SAW. Pertama, minum dalam keadaan duduk. Telah dibuktikan secara ilmiah bahwa ada organ penyaring di dalam tubuh yang hanya akan bekerja jika kita duduk. Jika seseorang minum dalam keadaan berdiri, air yang masuk akan langsung menuju kandung kemih tanpa ada penyaringan terlebih dahulu. Hal ini dapat menyebabkan adanya penumpukan materi di kandung kemih yang nantinya akan menjadi kristal ginjal. Kristal ginjal ini menyumbat saluran air seni sehingga penderitanya akan mengalami susah buang air kecil.

Kedua, minum dengan tangan kanan. Allah melarang hamba-Nya untuk mencontoh perilaku dari setan. Salah satu perilaku setan adalah makan dan minum dengan tangan kiri. Jika tangan kanan ngga memungkinkan untuk digunakan, setidaknya tangan kanan mendukung/membantu tangan kiri. Jadi udah pada tau dong, ya, kenapa aku sering mengingatkan orang-orang terdekatku untuk makan dan minum dengan tangan kanan.


Sunnah Minum
https://siebenundsiebzig.files.wordpress.com/2013/02/sunnah-of-drinking-water-jpg.jpg
Ketentuan keempat yang menjadi ketentuan terakhir adalah temperatur air. Namanya juga manusia, punya selera masing-masing dalam hal minum. Ada yang lebih suka minum air panas atau hangat, ada pula yang gemar minum air es. Lantas mana yang lebih baik? Nah, sebaiknya minum air dengan suhu yang mendekati suhu ruangan, alias yang ngga panas dan ngga dingin. Istilahnya air sejuk.

Air panas/hangat, berpotensi untuk merusak papila, tonjolan kecil di permukaan lidah. Papila ini bertanggung jawab atas kemampuan lidah dalam mengecap rasa. Jadi kalau papila ini rusak, secara otomatis lidah akan kehilangan kemampuannya untuk mengecap rasa. Lain hal dengan air es. Air es yang masuk ke tubuh akan membuat tubuh kaget dengan perubahan suhu yang tiba-tiba. Beberapa orang akan langsung demam, namun ngga sedikit yang merasa biasa aja. Selain itu air es juga membuat tubuh bekerja lebih keras untuk menyesuaikan suhu air es yang masuk dengan suhu tubuh sehingga membuat tubuh malah kehilangan lebih banyak cairan. Itulah sebabnya mengapa kita akan cepat merasa haus jika minum air es dibandingkan dengan saat kita minum air sejuk.

Jadi, menurutku ada empat ketentuan yang harus kamu perhatikan dalam hal minum air. Apa menurut kamu empat ketentuan ini udah mencakup seluruh aspek? Atau aku melewatkan sesuatu? Let me know by leaving some comment below! See you on the next post!

Tuesday, October 3, 2017

Bagaimana Rasanya Punya Adik Perempuan?

Halo Pembaca Kece!
Aku balik lagi dengan proyek BC alias Bloggers’ Challenge. Kali ini topik diajukan oleh Mbak Vera, member baru ABC asal Blitar. Nah, lho, BC udah Go Nasional! Topik yang Mbak Vera ajukan itu Andai Aku Punya Adik Perempuan. Tapi berhubung aku memang punya adik perempuan, agak diganti dikit diksinya menjadi Rasanya Punya Adik Perempuan. Gimana rasanya, ya? Sebenarnya biasa aja, sih. Tapi mari kita eja rasa ini pelan-pelan. Eaaaaak!

Bagaimana Rasanya Punya Adik Perempuan?

Adek Gue
Mungkin bagi kamu yang punya adik cewek, bakalan mikir, gimana rasanya? Biasa aja, ngga ada yang gimana-gimana. Sama, aku juga mikirnya gitu. Makanya biar agak berasa, aku ceritakan pakai garis waktu, mulai dari adikku lahir sampai sekarang.

Kurang lebih 19 tahun lalu, sekitar jam tiga dinihari, aku dibangunkan oleh tangisan di kamar sebelah. Aku kaget waktu itu karena bangun ngga di kamar yang semestinya. Si Arif kecil yang saat itu masih berumur empat tahun, penasaran, terus keluar kamar menuju ke kamar utama yang pintunya sedikit terbuka. Aku mengintip, eh, ada bayi di atas tempat tidur! batinku. Baru aku tau kalau Ummi udah melahirkan seonggok bayi perempuan berhidung kurang seons. Belum ada perasaan yang berarti untuk bayi kecil itu. Cuma perasaan excited karena punya adik baru.

Waktu berlalu. Si pesek jelek itu mulai masuk TK sedangkan aku udah duduk di kelas 4 SD. Saat itu rasanya masih biasa aja. Cuma sebagai abang yang baik, sesekali kalau udah pulang dari madrasah, aku mampir ke TK si adek, liat kegiatan do’i. Kadang ikut pulang bareng naik becak motor, rame-rame dengan teman-teman adekku yang lain.

Setahun kemudian, si pesek jelek masuk SD. Karena udah agak besar, udah bisalah jadi kawan begadoh. Iya, do’i itu lawan berantemku di rumah. Mulai dari pertarungan dengan tangan kosong, sampai menggunakan senjata. Hasilnya tentu aja dimenangkan olehku. Kemudian si adek bakalan nangis dan aku akan diomeli sama Ummi atau Abi.

Hubungan kami mulai harmonis saat si jelek itu masuk asrama di pesantren dekat rumah. Setiap do’i pulang seminggu sekali, kami akan lebih banyak ngobrol dengan cara yang lebih ‘normal’. Itupun hanya berlaku kalau do’i di rumah cuma sehari-dua hari. Kalau lebih dari itu, kami akan kembali ke mode Tom and Jerry, hehehe…

Penampakan
Seiring berjalannya waktu, kami makin harmonis, terutama setelah aku hijrah ke Kota Medan untuk kuliah. Intensitas pertemuan yang sangat minim membuat kami secara ngga sadar memanfaatkan setiap momen ngumpul di rumah, atau saat aku berkunjung ke asramanya. Kami jadi banyak ngobrol, tentang sekolah, kuliah, teman, bahkan asmara. Pada titik itu, aku bersyukur punya adik perempuan, karena memang pada dasarnya aku yang ngga punya hobi yang sangat-sangat menunjukkan kalau aku laki-laki seperti olahraga sepak bola, menonton pertandingan balap, dan semacamnya, jadi nyambung ngobrol dengan si jelek.

Waktu demam Korea menerjang Indonesia, kami juga ngobrolin tentang hal itu. Si jelek yang memang punya referensi lebih banyak, jadi semacam living Google untukku. Aku yang memang hobi nonton dan mengoleksi film di laptop, juga menularkan kegemaranku itu ke adik tunggalku itu. Kami jadi punya makin banyak topik bahasan. Pokoknya makin gede, kami makin mesra deh. Sampai-sampai kalau orang yang ngga kenal ngeliat kami jalan, pasti mereka mikir kami pasangan kekasih. Secara muka juga ngga ada miripnya sama sekali.

Sampai saat ini, hubungan kami tetap rukun, meskipun aku udah ngga di Sumatera lagi. Cuma dua hal yang bikin kami cekcok, yaitu saat kami saling dorong untuk nikah duluan atau saat kami membahas tentang aibku. Iya, do’i ngga mau cepat-cepat nikah, sedangkan aku sendiri lagi mikir gimana caranya berkembangbiak dengan membelah diri atau dengan tunas. Tapi cekcoknya ngga sampai bikin kami diem-dieman selama 7 tahun, kok. Ngga sampai segitu. Paling cuma saling memaki aja, dan itu biasa bagi kami.


Oke, itu yang aku rasakan karena punya adek cewek. Mungkin kamu punya pengalaman yang beda, ngga usah segan untuk tinggalkan jejak di kolom komentar, yaaaa!

Wednesday, September 27, 2017

Apa Kamu Senormal Aku?

Halo! Penulis balik lagi ini! Op! Op! Tunggu dulu! Berhubung tema blog ini ganti, sebutan untuk diri Penulis ganti juga, dong. Mulai postingan ini sampai berikutnya, kata Aku akan menggantikan kata Penulis untuk merujuk ke diri Penulis. Oke, sip, bungkus!

Nah, di postingan kali ini, Aku mau cerita tentang hal-hal yang menurutku normal. Aneh topiknya, ya? Ya gitu deh. Aku juga udah protes sama yang ngajuin topik ini. BTW, yang mengajukan topik ini si Ichsan, anggota baru BC. Tuh, kan, masih anggota baru udah ngasih topik yang aneh begini. Huh! Tapi ya udah, lah, ya. Kita coba tulis aja.


Hal yang Menurutku Normal

Sebelum aku cerita jauh-jauh, mari kita cek apa arti kata normal di KBBI. Nah ini dia, menurut KBBI edisi kelima, normal bermakna menurut aturan atau menurut pola yang umum; sesuai atau tidak menyimpang dari suatu norma atau kaidah; sesuai dengan keadaan yang biasa; tanpa cacat; tidak ada kelainan. Dengan kata lain, sesuatu dikatakan normal saat hal itu sesuai dengan peraturan, norma atau kaidah dan dapat diterima secara umum. Tapi berhubung di sini topiknya adalah hal yang normal menurutku, maka penjelasan dari KBBI di atas bisa kita abaikan. Oke, sip!
Jadi apa aja hal yang menurutku normal? Di sini aku akan kelompokkan ke dalam beberapa komponen. Kita bahas satu-satu ya!

Makan

www.ummi-online.com
Poin pertama adalah tentang makan. Bagaimana makan yang normal menurutku? Kuantitasnya pas; tiga kali sehari; pagi, siang, dan malam. Jadi kalau ada yang melewatkan salah satu waktu makan di atas (kecuali saat ibadah puasa), mereka aku anggap ngga normal. Tentang cara makannya, aku ngga ada masalah mau langsung dengan tangan atau dengan menggunakan sendok dan garpu atau pisau, yang penting tangan yang digunakan untuk makan itu masih tangan kanan. Tentang durasi, aku rasa makan dengan menghabiskan waktu 10-15 menit itu wajar karena menurut aku, makan itu mesti dinikmati, ngga boleh terburu-buru kecuali terpaksa, saat hampir terlambat misalnya. Tapi kalau di waktu lengang, ngga perlu terburu-buru.

Tidur

Poin kedua, kita bicara tentang tidur. Menurutku, tidur yang normal itu tidur yang dimulai dari sebelum jam 11 malam dan diakhiri sebelum jam 6 pagi. Kalau kurang, berarti ngga normal. Tapi kalau lebih satu atau dua jam, itu masih bisa dimaklumi. Berikutnya posisi tidur. Posisi tidur yang normal itu telentang atau miring ke kiri dengan kaki ngga mengarah ke kiblat. Kalau kamu tidur dengan posisi miring ke kanan, masih boleh deh. Tapi kalau tengkurap, BIG NO!

Mandi

clicktoseeworld.blogspot.co.id
Aku anggap mandi itu normal kalau durasinya lebih dari atau paling engga 10 menit. Kalau kurang dari itu, ngga normal. Pasti mandinya ngga bersih. Aku jadiin diriku sendiri sebagai patokan. Jadi aku paling cepat mandi itu 10 menit. Itu ngga termasuk pooping lho, ya. Kalau ditambah pooping dan kegiatan lain kaya cukuran, jadi makin lama. Bisa sampai setengah jam gitu. Makanya kalau ada orang yang yang mandinya ngga lebih dari 10 menit, aku meragukan kebersihannya. Sama kaya waktu makan, aku juga ngerasa kalau mandi itu perlu dinikmati, nunjukin kalau kita itu sayang sama badan kita. Jadi ngga perlu itu terburu-buru waktu kita mandi. Yang penting bersih, itu toh tujuan hakikinya. Tapi ya ngga sampai satu jam juga di kamar mandi. Situ ngapain? Konser?

Berteman

Poin berikutnya adalah tentang hubungan pertemanan. Untuk berteman dengan lawan jenis, aku rasa sah-sah aja untuk skinship yang wajar, kaya gandengan, rangkulan, atau pelukan. Tapi harus digarisbawahi, yang wajar, sekedarnya aja, menunjukkan kedekatan kita dengan mereka. Itupun hanya berlaku ke teman lawan jenis yang udah bener-bener akrab. Aku sendiri cuma punya 3 temen cewek yang bebas banget. Mungkin ada beberapa yang lain, tapi ngga sebebas kaya ke 3 orang ini. Kalau temenan sama cowok, aku liat orangnya. Kalau aku udah nyaman, gandengan, rangkulan, atau pelukan itu normal. Tapi kalau cuma sekedar kawan, aku ditempelin dikit aja geli, ahahahaha

Percintaan

Ohohoho! Menyinggung masalah cinta nih! Nah, di bagian ini aku bahas tentang kedudukan cewek dan cowok. Menurut aku, sah-sah aja kalau cewek yang mengungkapkan perasaannya lebih dulu ke cowok. Jadi ngga harus cowok yang nembak cewek. Prinsipku begini, kamu mau sesuatu ya usaha, dong! Cewek kasih kode doang? Iya kali cowoknya anggota Badan Intelijen Negara, mesti pintar memecahkan kode-kode rahasia dari si cewek. Engga mesti serumit itu lhaaa. Yang wajar aja. Kalau suka tinggal bilang. Apakah nanti ditolak atau diterima, ya persiapkan diri aja untuk kemungkinan terburuk, daripada galau-galau ngga jelas?! Bener engga? Gengsi? Harga diri? Shoo shoo deh! Makan itu gengsi!

www.life.idntimes.com
Tentang keuangan waktu pacaran, aku rasa juga sah-sah aja kalau waktu jalan itu biayanya patungan. Walaupun sebenarnya pacaran itu dilarang, tapi postingan ini kan bukan tentang agama, beda lapak cuy. Jadi mari kita abaikan yang itu, ya?! Balik lagi, ngga mesti kok cowok terus yang jadi fasilitator dan cewek jadi konsumennya. Ya kalau sekali-sekali si cewek yang bayarin, ngga masalah. Di Jepang, pasangan yang makan di luar itu bayar masing-masing lho. Kemudian hadiah, aku rasa ngga normal kalau masih pacaran, tapi si cewek udah minta hadiah macem-macem, atau uang belanja bulanan. Apalagi kalau si cowok ini belum punya penghasilan sendiri alias masih dibiayain orang tuanya. Sah-sah aja kalau hadiahnya itu dalam memperingati momen tertentu kaya ulang tahun. Anniversary? Meh! Mending nikah, terus ngerayain ulang tahun pernikahan setiap tahun. Ini engga, pacaran, sok merayakan anniversary, setiap bulan lagi! Belajar bahasa Inggris lagi, ya, Mbak, Mas. Malu sama tuyul kalau ngerayain anniversary-nya setiap bulan.

Oke, sip! Udah, aku rasa lima poin ini aja udah cukup. Mungkin ada beberapa hal lagi yang bisa diceritakan lebih lanjut, tapi aku ngga kepikiran apa.


Nah, setelah baca postingan ini, kira-kira menurut kalian, pandangan kita tentang hal yang normal itu sama engga? Beda, ya? Ya monggo kasih tau bedanya di mana. Tuh kolom komentar kosong, diisi, gih!

Sunday, September 24, 2017

Ayo Ceritakan Sedikit tentang Dirimu!


Hola-hola!

Apa kabar? Semoga yang baca postingan ini selalu diberi kesehatan oleh yang Mahakuasa, amin! Doakan juga semoga Penulis cepat sembuh dari sakit ya. Badan Penulis masih sulit beradaptasi dengan cuaca panas luar biasa di kota ini, jadi, ya gitu, setiap pulang kuliah Penulis meriang. Soalnya kami di kelas pakai AC, terus waktu keluar ruangan langsung terpapar panas ekstrem. Badan jadi kaget dong, ya?

Udah, udah cukup curhatnya. Penulis mau cerita-cerita tentang diri Penulis ini. Topik ini yang kasih si Hera. Do’i penasaran banget sama ABC yang lain, makanya do’i kasih topik tell me about yourself. Nah, lho, Penulis bingung mau cerita apaan, I’m an open book, lho. Hampir semua temen udah pada tau siapa dan bagaimana Penulis. Mungkin si Hera udah kehabisan ide, makanya do’i ngajuin topik ini. Oke, oke lah, yuk masuk!


Who Am I?


Pertanyaan dasar nih, siapa aku? Siapa Penulis? Ini ga usah ditinjau terlalu dalam sampai ke hakikat kenapa Penulis lahir ke dunia dan apa tujuan hidup Penulis. Ga perlu sampai ke sana, berat. Kita cerita yang ringan aja. Sip!

Penulis adalah seorang bocah atau remaja laki-laki berusia 23 tahun yang memiliki pipi gempal besar sebelah karena cenderung menggunakan mulut sebelah kiri saat mengunyah makanan. Anak kedua dari tiga bersaudara ini dilahirkan di salah satu ruangan di RS dr. Djoelham, Kota Binjai. Masih memiliki hubungan kekerabatan yang sangat erat dengan kedua orang tuanya yang saat ini bermukin di kota kecamatan di Kabupaten Langkat.

Penyuka hewan peliharaan dengan nama latin Felis silvestris catus ini memiliki banyak hobi, diantaranya menulis, memasak, berprakarya, menonton film, bernyanyi, dan masih ada beberapa lagi, namun ngga satupun dari hobi itu didalami olehnya. Kemampuan menulis cuma ala kadarnya, rasa masakannya biasa aja, hasil prakaryanya juga jauh dari kata luar biasa. Suaranya? Duh! Jangan ditanya! Bagus sih, tapi lebih bagus diam. Cuma ya, Penulis ngga bisa menahan diri untuk ngga bernyanyi, apalagi waktu nyuci, hehehe… Dulu waktu di kost sampai di-request nyanyi beberapa lagu sama tetangga kamar. Untuk ngusir tikus kali, ya? Ahahaha!

Bicara tentang memasak, sebenarnya Penulis juga ngga tau nih punya hobi ini nurun dari siapa. Ummi, memang masakan beliau pantas diacungi jempol. Tapi Ummi masak itu untuk makan sekeluarga sehari-hari, bukan karena hobi. Sekarang malah lebih sering beli di luar. Abi? Beliau malah hampir ngga pernah masak. Jadi fix ini hobi ngga diturunkan dari orang tua.
Awalnya, waktu Penulis masih SD, Penulis suka iseng sama makanan yang dibuat Ummi. Yang paling iseng itu adalah waktu Penulis memasukkan kacang tanah mentah yang udah Penulis giling ke dalam sambal terasi. Begitu Ummi pulang kerja, Ummi protes. Ngga marah, lho ya, protes. Ummi tanya itu kenapa kacang tanah mentah dimasukin ke sambal. Penulis cuma nyengir. Abis itu Ummi kasih tau, kalau sebenarnya ngga masalah kalau kacang tanahnya mau dimasukin ke sambal, tapi harus dimasak dulu biar matang.

Hobi memasak
hobbybareng.blogspot.co.id
Naik ke stage kedua, Penulis mulai coba-coba dengan telur. Jadi paling engga seminggu sekali Penulis bakal menggoreng telur, entah itu telur mata sapi ataupun telur dadar. Begitu mulai bisa menguasai cara menggoreng telur, Penulis jadi agak betingkah dong. Telur dadar yang awalnya polos, mulai Penulis kasih campuran kaya tomat, bawang, cabe, wortel, kentang, teri, dan banyak lagi.

Di stage ketiga, Penulis melebarkan sayap ke menu nasi goreng. Berbekal nonton Ummi dan Abi waktu menggoreng nasi, Penulis mulai berani mencoba. Tapi namanya amatir, pasti banyak kesalahan, mulai dari terlalu asin, terlalu banyak minyak, sampai pernah rasa nasi gorengnya jadi aneh karena itu nasi Penulis tambahin daun bayam. Namun dari kesalahan-kesalahan itu Penulis belajar. Sekarang sih kalau ada kesempatan, Abi malah nyuruh Penulis untuk bikin nasi goreng untuk sarapan orang serumah.

Stage keempat, Penulis mulai suka coba-coba dengan gorengan. Mulai dari ayam goreng, tempe goreng, tahu goreng, udang goreng, cumi goreng, dsb. Tentu aja digoreng dengan cara yang betingkah. Yang dibikin adonan dulu lah, dilumuri bumbu racikan sendiri, sampai dibentuk macam-macam.

Terus di stage kelima, Penulis bereksperimen dengan pasta. Niat awalnya sih mau membiasakan lidah kampung orang di rumah dengan makanan luar. Caranya dengan mengganti saus pasta dengan bumbu yang familiar dengan lidah orang Indonesia, yaitu bumbu sarden kalengan. Setelah Ummi Abi terbiasa, Penulis betingkah lagi dong, ya?! Mulai coba pakai saus tiram dan saus teriyaki. Bahkan ngga hanya ditumis dan digoreng, Penulis nyoba bikin kroket atau pasta kukus. Ummi, Abi, dan Uwak yang kerja di rumah jadi komentator setiap Penulis masak. Di mana letak kurangnya, apa yang mesti dikurangi, dsb.

Nah, di stage keenam, Penulis mengotak-atik kue. Kue pertama yang Penulis coba adalah bolu panggang biasa. Cuma ya karena udah kebiasaan betingkah, itu adonan bolu Penulis bagi jadi dua bagian. Satu bagian dibiarkan polos, satu adonan lagi dikasih coklat bubuk. Terus waktu dituang ke loyang yang berbentuk huruf O, Penulis kasih irisan buah kurma. Rasanya gimana? Yah, Penulis ngga berharap banyak, namanya juga percobaan pertama. Dan setelah itu Penulis belum ada nyoba bikin kue lagi, keburu pergi jauh dari rumah, huhuhuuuu…

Itu dia sekelumit cerita tentang Penulis. Dikit banget karena emang Penulis cuma mau cerita tentang hobi memasak. Jadi biar yang baca pada tau gimana perkembangan hobi Penulis.

Oke, topik ini beres ya, Her. Gosah kau suruh aku cerita-cerita kek gini lagi!

Tuesday, September 19, 2017

Pendidikan di Indonesia, Murah atau Mahal sih?


Halo-halo!
Penulis balik lagi! Kali ini mau cerita tentang dunia pendidikan, lagi. Tapi ini beda pembahasan kok. Kalau di topik sebelumnya Penulis membahas tentang hal-hal yang ngga boleh dilakukan guru di sekolah, di postingan ini Penulis mau membahas topik dari si Trias tentang biaya pendidikan di Indonesia, apakah murah atau mahal. Uuuuuuuh! Masalah uang! Cus masuk ke pembahasan!

Sekolah di Indonesia, Murah atau Mahal?

Kalau dalam percakapan sehari-hari, pasti kamu sering dengar pernyataan seperti ini, “Ngga ada yang gratis di dunia ini, bahkan mau pipis pun bayar.” Pernah dengar dong, ya? Iya, pernyataan itu bisa jadi benar, bisa jadi salah. Masih ada kok yang gratis, tapi ngga sedikit yang serba bayar, termasuk pendidikan. Nah, pertanyaannya adalah, apakah untuk bersekolah di Indonesia itu butuh biaya besar? Untuk menjawab pertanyaan ini, Penulis menjadikan pengalaman Penulis sendiri sebagai dasar.

Ilustrasi Keadaan Kelas TK
www.sinarharapan.co
Apakah bersekolah di Indonesia butuh banyak biaya? Jawabannya adalah tergantung di mana kamu bersekolah. Penulis memulai pendidikan di bangku taman kanak-kanak (TK) di pertengahan tahun 1999. TK tempat Penulis bersekolah adalah TK yang berada di bawah naungan yayasan swasta. Apakah biaya yang dikeluarkan orang tua Penulis cukup banyak? Penulis belum begitu mengerti tentang biaya saat itu. Tapi bisa Penulis perkirakan bahwa biaya yang keluar untuk bersekolah di TK saat itu masih cukup terjangkau. Empat tahun kemudian, adik perempuan Penulis mulai bersekolah di sekolah setingkat TK tapi versi islam dengan sebutan RA (Raudatul Athfal) dan statusnya juga sekolah swasta. Apa butuh biaya besar? Lagi-lagi, engga. Untuk pendaftaran awal, biaya yang dikeluarkan ngga sampai 500 ribu. Uang bulanannya juga ngga mencapai angka 100 ribu.

Tapi ingat, ini pengalaman Penulis dan adik yang sekolah TK-nya ada di kota kecamatan. Bagaimana kalau di kota besar? Nah, kalau di kota besar, untuk tingkat TK, di awal pendaftaran, setidaknya orang tua harus mengeluarkan biaya 1-3 juta. Dan untuk uang bulanannya sekitar 100-300 ribu. Itu di sekolah yang biasa aja, lho ya?! Kalau di sekolah bonafit, pasti lebih mahal dari itu.

Beranjak ke tingkat SD, Penulis bersekolah di SD Negeri. Seingat Penulis, orang tua Penulis ngga mengeluarkan biaya yang banyak ke pihak sekolah, soalnya ada program Wajib Belajar 9 Tahun. Jadi uang sekolah gratis, buku paket juga dipinjamkan. Orang tua Penulis hanya membayar kebutuhan tambahan seperti untuk baju olahraga dan ujian praktik, selebihnya gratis.

Wajib Belajar 9 Tahun
radarsuperindo.wordpress.com
Lagi-lagi, kondisi di atas berlaku di tempat tinggal Penulis. Kalau di kota, ini berdasarkan pengalaman adik sepupu, di awal, biaya yang harus dibayarkan sekitar 3-6 juta, itu sudah termasuk beberapa pasang seragam. Uang bulanannya masih dalam hitungan ratusan ribu.

Masuk ke SMP, Penulis juga masih bersekolah di sekolah negeri. Masih karena program Wajib Belajar 9 Tahun, biaya sekolah Penulis juga hampir gratis, hanya beberapa puluh ribuan sebulan untuk membayar komputer setiap bulan dan baju olahraga yang dibayar waktu kelas 7. Buku paket juga masih dipinjamkan oleh pihak sekolah. Tapi menjelang akhir masa SMP, tepatnya semester kedua kelas 9, ada les tambahan di sekolah untuk persiapan menghadapi ujian nasional dengan biaya 150 ribu untuk 3 bulan. Oh, iya, hampir lupa. Karena Penulis masuk di kelas unggulan, ada biaya tambahan sebesar 120 ribu untuk seragam khusus yang dikenakan pada hari senin-kamis. Berbeda dengan Penulis yang bersekolah di SMP Negeri, adik Penulis melanjutkan sekolah menengahnya ke pondok pesantren swasta. Walaupun swasta, biaya yang dikeluarkan orang tua juga masih terjangkau. Uang sekolah sekitar 1,2 juta (Penulis lupa apakah ini pertahun atau persemester) yang pembayarannya bisa dicicil dan uang bulanan senilai 400 ribu, sudah termasuk biaya pemondokan dan konsumsi.

Di bangku SMA, lagi-lagi Penulis bersekolah di sekolah negeri. Waktu itu program Wajib Belajar 12 Tahun belum dicanangkan, jadi setiap bulan ada uang SPP yang harus dibayar sekitar 50 ribu. Buku paket juga dibeli untuk pribadi dengan biaya sekitar 500 ribu pertahun. Ditambah baju olahraga di kelas 10. Di semester kedua kelas 12, Penulis juga diberi les tambahan dengan biaya (kalau Penulis ngga salah) 300 ribu untuk 3 bulan. Adik Penulis sendiri masih sama dengan SMP karena dia melanjut ke Aliyah di pondok pesantren yang sama.

Ilustrasi Suasana Ujian SNMPTN
www.indowarta.com
Pada tahun 2012 Penulis menyelesaikan studi di SMA dan berencana melanjutkan ke perguruan tinggi negeri melalui seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Biaya yang dikeluarkan untuk pendaftaran (SNMPTN) jalur ujian tulis saat itu hanya 175 ribu. Alhamdulillah, Penulis diterima di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Medan. Untuk pendaftaran ulang, orang tua Penulis harus merogoh kocek sebanyak sekitar 2,3 juta dengan rincian uang pembangunan, SPP semester satu, dan jaket almamater. Uang SPP persemester untuk semester dua dan selanjutnya sebesar 725 ribu. Tapi Penulis merupakan stambuk terakhir yang masih memakai biaya segitu. Untuk stabuk setelah Penulis diberlakukan sistem uang kuliah tunggal (UKT) yang biaya SPP persemesternya tergantung dari penghasilan dan tanggungan orang tua masing-masing mahasiswa. Rentang biayanya mulai 500 ribu hingga 1,5 juta. Nominal ini setiap tahun naik, ngga tau untuk stambuk 2017 berapa rentang biayanya.

Bagaimana dengan adik Penulis? Alhamdulillah, pada tahun 2016 kemarin dia juga diterima di salah PTN islam di Kota Medan. Karena udah berlaku sistem UKT, jadi ngga ada yang namanya uang pembangunan di awal. Orang tua Penulis hanya harus membayar SPP senilai 2 juta yang kini naik menjadi 2,1 juta persemesternya.

Gedung Pascasarjana
www.uns.ac.id
Akhir tahun 2016, Penulis menamatkan studi S1 dan mendapat gelas sarjana. Setelah memikirkan berbagai pertimbangan, Penulis memutuskan untuk melanjutkan studi ke tingkat magister di salah satu PTN di Pulau Jawa. Butuh biaya sebesar 400 ribu untuk pendaftarannya. Nominal ini termasuk yang paling murah, karena di beberapa universitar negeri lain, biaya pendaftaran berkisar 500-750 ribu untuk jenjang magister. Alhamdulillah Penulis lulus seleksi. Di universitas ini juga berlaku sistem UKT. Hanya saja nominalnya tidak ditentukan oleh penghasilan dan tanggungan orang tua, melainkan jurusan magisternya. Jurusan yang Penulis ambil termasuk jurusan dengan nominal UKT terendah, yakni 6,5 juta, sedangkan nominal UKT tertinggi senilai 10,9 juta. Dibandingkan dengan universitas negeri lain di Indonesia, UKT di universitas ini juga termasuk yang termurah. Di universitas negeri yang lain, bilangan UKT mulai dari angka 5 juta hingga belasan juta, tergantung jurusannya.

Nah, jadi itu gambaran biaya pendidikan menurut pengalaman Penulis sendiri. Menurut kamu, jumlah segitu termasuk kategori murah atau mahal? Kalau Penulis pribadi sih jumlah segitu murah, karena teman-teman Penulis yang lain, biaya sekolahnya lebih mahal, hehehe…

Gimana, gimana, murah atau mahal? Kasih pendapat kamu di kolom komentar ya?!

Tentang Moody

Halo pembaca kece! Di postingan kali ini, aku ditantang sama Kak Rina untuk menceritakan tentang tanggapanku terhadap seseorang yang mo...