Wednesday, January 25, 2017

Kenangan Tak Terlupakan


Hoooooh! Lagi-lagi Penulis telat posting! Huhuhuhu!

Okelah, anggap aja udah biasa. Hmm!

Tema kali ini dari si Hera. Dia pengen ngubek-ngubek masa lalu. Iya lah, cerita kenangan, berarti cerita masa lalu dong, ya? Tapi tenang aja, masa lalu ga melulu identik dengan hal yang menyedihkan, kok. Kaya yang mau Penulis ceritain ini.

Liburan Kilat Awal Tahun

Ini kejadiannya awal tahun 2014. Waktu itu masih nerima beasiswa, jadi bisa agak betingkah melalak jauh, ga kaya sekarang. Oke, ga penting.

Nah, awal tahun 2014 itu Penulis liburan kilat. Beneran kilat karena cuma tujuh hari tapi yang didatangi entah berapa tempat. Begini kronologinya.

Tanggal 4 Januari sekitar jam 3 sore, Penulis bergerak dari Medan ke kota Pematang Siantar naik kereta api. Sore itu luar biasa kali, Penulis hampir ketinggalan kereta! Oke, menempuh sekitar empat jam perjalanan, Penulis tiba di stasiun kereta api kota Pematang Siantar. Udah ditunggu sama salah satu teman Penulis di sana, sebut aja A. Gitu kita ketemuan, kita langsung cus ke rumah si A.

Malam itu dingin banget, jadi Penulis ga ada niat keluar. Selain itu juga si A kedatangan tamu lain, jadi ga mungkin Penulis maksa si A untuk jalan-jalan keliling kota. Akhirnya malam itu dihabiskan di rumah aja. Waktu tidur, hmm, susun gembung istilahnya. Dengan luas kamar yang ga seberapa, empat orang masuk ke situ. Sempit, tapi ya udahlah, namanya juga numpang.

Besoknya, tanggal 5, Penulis diajak main ke kebun teh Sidamanik, berempat bareng tamu si A yang lain juga. Setelah menempuh sekitar satu jam naik angkot, kami nyampe di sana. Agak heboh waktu sampai di sana, soalnya Penulis kebelet pipis tapi ga nemu tempat yang bisa dipakai untuk pipis. Penulis juga ga mau pipis di alam terbuka. Ada sih mesjid, tapi kamar mandinya digembok. Di tengah kegalauan yang menyiksa, Penulis menyusuri jalan seorang diri, mencoba menemukan tempat untuk pipis, dan alhamdulillah ada sebuah sekolah yang ada toiletnya. Setelah menahan malu luar biasa karena numpang pipis di tempat orang, akhirnya kami ke kebun teh. Penulis memilih untuk memisahkan diri dari rombongan karena ngerasa momennya pas banget untuk sendiri. Iya, kebun teh Sidamanik itu sunyi, jadi asik untuk orang yang suka kesunyian kaya Penulis.

Sekitar jam 1 siang, kami balik ke rumah si A. Penulis nemenin ibu si A bikin ulos di bengkelnya sambil ngobrol ngalur ngidul. Ga lama, karena Penulis mesti beres-beres untuk berangkat lagi, iya, Siantar itu baru destinasi pertama.

Jam 3 sore, Penulis pamit, terus ketemu sama temen Penulis yang lain di Siantar, sebut aja si B. Kami keliling kota Pematang Siantar pakai sepeda motor, belanja roti ganda yang katanya khas kota Pematang Siantar, terus keliling lagi sebelum akhirnya berhenti di loket (terminal) bus. Di sini juga agak heboh karena kendaraan yang mau Penulis tumpangi ga kunjung jelas keberadaannya. Sampai jam 9 malam Penulis belum juga nemu kendaraan. Akhirnya si B bawa Penulis ke loket yang lain, Alhamdulillah ada. Penulis langsung beli tiket terus nunggu keberangkatan yang ternyata lama banget.

Lagi nunggu bus yang ga datang-datang, eh, Penulis di telpon sama supir taksi (istilah angkutan mereka, mobil yang dipakai ga beneran taksi melainkan mobil minibus pribadi) di loket yang pertama, katanya mereka mau berangkat. Ya udah, daripada bus ga jelas, Penulis kembaliin tiket busnya terus minta jemput di sekitar loket itu. Ga lama, taksi pun datang. Tapi ternyata ini PHP juga pemirsa. Penulis diajak keliling kota untuk jemput satu-satu penumpang lain, terus disuruh nunggu lagi di loket mereka. Akhirnya jam setengah 12 juga kami baru berangkat.

Sepanjang perjalanan gelap. Ya iya lah, tengah malam juga. Penulis ga bisa tidur karena emang ga biasa tidur di dalam kendaraan kecuali ada orang yang bisa dilendoti. Sebenernya ada orangnya, sih. Kebetulan Penulis duduk di bangku penumpang paling belakang, berdua sama om-om setengah baya. Tapi Penulis ga kenal. Kan ga lucu tiba-tiba minta ngelendot sama om itu. Lagipula, om itu ngerokok, Penulis kan ga suka asap rokok.

Sekitar jam 5 pagi, kami berhenti di Tarutung untuk istirahat sekaligus ibadah. Nah, karena Penulis sholat, otomatis waktu Penulis dikit yang tersisa. Jadi Penulis ga makan nasi, cuma beli mi instan dalam kemasan. Perjalanan pun dilanjutkan. Tapi yang Penulis ga tau, ternyata jalan dari Tarutung sampai Sibolga itu luar biasa meliuk-liuk! Mana supirnya ngebut lagi! Jadilah Penulis dituntut untuk bisa makan mi instan berkuah dalam kemasan tanpa tumpah dan muntah. Ngeri-ngeri sedap lah pokoknya.

Penulis nyampe di Sibolga sekitar jam 8 pagi, dengan muka kucel penuh debu. Temen Penulis yang emang mau menjemput Penulis, sebut aja C, sampai hampir ga mengenali Penulis yang hina ini. Hehehehe...

Sekitar satu jam Penulis dibonceng naik motor dari Sibolga ke rumah si C di Pinangsori. Sempat belok-belok juga ke sekolah Matauli yang lumayan terkenal itu. Begitu nyampe rumah si C, Penulis rabahan bentar terus diajak nyari sarapan. Pulang sarapan, Penulis rebahan lagi. Capek, cuy! Seharian ga kemana-kemana, di rumah aja karena capek. Keluar cuma buat beli makan.

Besoknya, tanggal 7 januari sekitar jam 12 siang, Penulis sama si C berangkat ke kota Padang Sidimpuan. Ga jauh, kok, cuma sekitar tiga jam. Kami dijemput sama temen Penulis, si D. Karena kami berdua, kami ditumpangkan ke betor (becak motor). Ngomong-ngomong, betor di Sidimpuan itu unik, lho, mungil, imut-imut. Saking imutnya, ga muat dimasuki Penulis bareng si C. Tapi karena terpaksa, akhirnya dimuat-muatkan juga. Nyampe di rumah si D, kami disambut saudara-saudara si D yang cowok semua, terus kami di ajak naik ke lantai 2. Di sana kami menghabiskan malam.

Besok paginya, kami bertiga jalan kaki ke bukit Simarsayang di belakang rumah si D. Katanya di atas ada universitas swasta. Karena unik, Penulis mau liat. Tapi, ya ampun, itu bukit curam banget, sumpah! Meleng dikit, jatuh guling-guling deh. Pulang dari sana malah dapat ceramah dari ayah si D. Apa isi ceramahnya? Hanya kami dan Tuhanlah yang tau.

Sekitar jam sebelas siang, si D ngajak aku dan si C ke salah satu pajak (pasar tradisional) di Sidimpuan. Di sana kami belanja buah salak yang lumayan banyak (agak kecewa karena gitu nyampe rumah, keadaan salaknya mengenaskan).

Kalau Penulis tidak salah, jam 2 siang kami bertolak ke Pinangsori, ke rumah si C lagi. Nah, di sini juga ga lama, karena sekitar jam 8 malam, Penulis udah mau berangkat ke Medan. Tapi sore itu, Penulis diajak si C ke pantai Pandan. Niatnya mau liat matahari terbenam, tapi apa daya lagi musim hujan, ufuk barat tertutup awan kelabu.

Ada cerita yang ngeselin waktu di perjalanan pulang. Jadi waktu itu mobil yang dipakai adalah mobil minibus merk To**ta. Penulis dapat bangku di baris kedua, bagian tengah. Ini Penulis ga tau gimana kok bisa jadi di tengah, padahal waktu pesan, bangku Penulis itu harusnya di belakang bangku supir. Setelah semua penumpang naik, Penulis diapit dua orang, di sebelah kanan ada ibu-ibu cantik, di sebelah kiri ada abang-abang  ramping. Oke, kami berangkat.

Di tengah perjalanan, hal yang ngeselin pun dimulai. Karena Penulis dapat bangku tengah, otomatis ga ada sandaran kepalanya, mau bersandar pun susah. Ditambah lagi postur tubuh Penulis yang agak tinggi, membuat leher makin tersiksa. Kemudian yang makin bikin kesel, itu ibu ama abang melendot di bahu Penulis, kanan dan kiri. Udah ga bisa tidur, malah dijadikan sandaran. Mau bilang, mereka udah nyenyak, segan juga. Jadilah dua tiga jam luar biasa menyiksa itu.

Hmm, itu salah satu kenangan yang Penulis punya. Sebenarnya ada banyak, tapi Penulis pilih yang ini. Oke, punya pengalaman yang sama? Atau malah lebih ngeselin dari pengalaman Penulis? Mari bagi di kolom komentar!

Tentang Moody

Halo pembaca kece! Di postingan kali ini, aku ditantang sama Kak Rina untuk menceritakan tentang tanggapanku terhadap seseorang yang mo...